4 Tips bagi Kreator untuk Menciptakan Konten dengan Engagement Kuat

profile photo reporter Clara Ermaningtiastuti
ClaraErmaningtiastuti
27 Juni 2022
marketeers article
Kreator konten perlu memahami pentingnya konsistensi dan riset terhadap audiens. | Foto: 123RF

Seiring dengan meningkatnya penggunaan platform digital untuk mengekspresikan kreativitas, maka kian beragam juga jenis konten yang disampaikan para kreator. Namun, meski banyak konten yang dihasilkan, masih banyak pula memiliki engagement rendah. Mengapa demikian?

Banyak kreator yang mengabaikan sejumlah variabel, mulai dari lemahnya konsistensi hingga kurangnya riset terhadap audiens.

Jerome Polin, Christie Basil, dan Sonia Basil adalah sejumlah nama kreator yang sukses di berbagai platform. Pada peluncuran kampanye #SambilanCuan dari YouTube Shorts, mereka membagikan pengalaman dan sejumlah tips dari untuk menciptakan konten dengan engagement kuat. 

Temukan Keunikan

“Hal yang paling penting namun terkadang dilupakan adalah keunikan. Apalagi sekarang sudah banyak sekali kreator konten. Sebab itu, jika ingin mencolok kita harus punya keunikan,” ujar Jerome, pemilik kanal YouTube Nihongo Mantappu.

Senada dengan Jerome, Christie dan Sonia yang juga merupakan entrepreneur menuturkan, kreator harus punya unique selling point (USP) sendiri. Pasalnya, menurut mereka, tidak sedikit orang mau menjadi pembuat konten namun masih banyak yang melewatkan poin penting, yaitu memikirkan apa yang sebenarnya bisa mereka berikan kepada publik.

Misalnya, Jerome, Christie, dan Sonia yang menyajikan konten-konten edutainment. Jadi, tidak hanya bisa terhibur dari apa yang disaksikan, audiens juga bisa mempelajari banyak hal dan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat.

Ketahui Keinginan Audiens

Untuk menemukan keunikan tadi, seorang pembuat konten juga bisa mendapatkannya ketika mencari tahu keinginan dari audiens. Apa yang mereka inginkan, dapatkan, atau ketahui? Bisakah konten yang dibuat sang kreator memenuhi kebutuhan penontonnya?

“Menurut saya, USP bagi pembuat konten bukan lagi unique selling point tapi unique story point. Perlu dipikirkan apakah kita punya jawaban untuk audiens,” tutur Christie.

Perkuat Storytelling

Mendukung pernyataan Christie, Jerome memberikan contoh bagaimana konten Christie dan Sonia menarik, yaitu karena storytelling. Sebagai seorang desainer gaun pengantin, Christie tidak hanya menunjukkan hasil karyanya memuaskan klien. Namun, ia juga menceritakan kesulitan hingga kegagalan yang harus dihadapi.

Demikian pula dengan Sonia yang merupakan cake decorator. Tidak jarang kue pesanan pelanggannya sulit dibuat dan harus diulang dekorasinya.

Selain itu, dua bersaudara tersebut juga punya keunikan lain dari setiap konten mereka yaitu menceritakan kisah pelanggannya. Christie menuturkan hal itu dilakukannya dan sang adik untuk menciptakan sense of belonging dan melibatkan konsumen pada perjalanan pesanan yang juga ada di konten mereka.

Trial and Error

Bukan hal yang mudah untuk menciptakan konten viral sehingga seorang pembuat konten bisa langsung dikenal. Banyak proses yang harus dilewati. Sebab itu, Jerome menyarankan pembuat konten, utamanya mereka para pemula agar konsisten dan persisten. 

“Butuh konsistensi dan waktu yang lama untuk membangun personal branding bagi seorang pembuat konten. Kalau kita tidak bisa bangun itu, kita tidak dapat bertahan lama,” ucap Jerome.

Poin-poin yang dijelaskan oleh Jerome, Christie, dan Sonia tersebut menjadi kunci kesuksesan konten mereka hingga saat ini. Tidak hanya baik untuk diri mereka secara pribadi tetapi juga bisnis yang mereka bangun.

“Konten ini bukan hanya medium sebagai pemasaran. Kami bahkan mendapatkan kenaikan revenue hingga empat sampai lima kali lipat dibandingkan dari sebelum kami mulai memproduksi konten,” tutur Christie.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related