Ada Tren Suku Bunga Naik, Investasi Reksa Dana Masih Menarik

profile photo reporter Eko Adiwaluyo
EkoAdiwaluyo
22 Juni 2022
marketeers article
Ilustrasi investasi reksa dana. Foto: www.123rf.com
Pada awal Mei 2022, Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) sebesar 50 basis poin (bps). Langkah ini merupakan upaya pengendalian inflasi yang pemicunya adalah masalah geopolitik yang berkepanjangan antara Rusia-Ukraina yang telah mengerek tingkat inflasi global. Langkah The Fed itu tampaknya akan diikuti bank-bank sentral dunia, seperti halnya European Central Bank. Apakah investasi reksa dana akan terpengaruh?
Saat ini, di dalam negeri, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate pada level 3,5% lantaran posisi Rupiah dan infasi dinilai masih stabil. Namun sejumlah ekonom memperkirakan BI juga bakal segera menaikan suku bunga acuan sebab bila tidak dilakukan berpotensi memengaruhi nilai tukar maupun aliran dana asing (capital outflow).
Sentimen kenaikan suku bunga biasanya sangat berkolerasi dengan kinerja instrumen investasi portofolio, termasuk reksa dana. Untuk itu para investor disarankan untuk mencermati perkembangan kenaikan suku bunga sebelum melakukan alokasi investasi.
Head of Advisory & Investment Connoisseur Moduit, Manuel Adhy Purwanto mengatakan aset investasi obligasi lebih sensitif terhadap kenaikan suku bunga. Namun, real yield (selisih imbal hasil terhadap inflasi) obligasi Indonesia saat ini masih jauh lebih menarik daripada negara maju atau berkembang lainnya, sehingga masih menarik.
“Sedangkan untuk instrumen saham akan tergantung dari kinerja perusahaan dalam membukukan pertumbuhan pendapatan atau laba. Dalam kondisi suku bunga naik, investor akan cenderung lebih selektif mencari perusahaan berkualitas dengan cashflow yang baik,” kata Manuel dalam siaran persnya.
Ia menambahkan, reksa dana saham yang memiliki strategi investasi ke saham unggulan (blue chip) dapat menjadi pilihan investasi dalam kondisi saat ini. Koreksi di pasar saham dapat menjadi kesempatan yang tepat bagi investor reksa dana yang berorientasi untuk tujuan jangka panjang.
Sementara, khusus investor yang memiliki tujuan investasi jangka pendek dengan profil konservatif, Moduit menyarankan untuk memberikan porsi alokasi investasi lebih besar pada reksa dana pasar uang karena lebih stabil dan minim fluktuasi. Apalagi tren kenaikan suku bunga berpotensi mendatangkan return lebih tinggi pada reksa dana jenis ini.
“Alokasi investasi tentu akan sangat tergantung dengan tujuan dan profil risiko investor maupun calon investor. Saat ini, platform Moduit menyediakan produk reksa dana dan obligasi, serta memiliki fitur Moduit Navigator yang dapat membantu investor mendapatkan rekomendasi asset alokasi berdasarkan tujuan dan profil resiko,” pungkasnya.

    Related