Communication

Adapt or Die! Dunia Humas Harus Adaptif Jika Tidak Ingin Lenyap

Buku Adapt or Die! Navigating the new world of PR  mengupas fenomena perubahan lanskap dunia public relations (PR) baik tentang aspek Artificial Intelligence (AI), Robot, era baru jurnalisme, hoax, fake news serta era adaptasi kebiasaan baru.

Terbitnya buku ini sangat pas dan relevan dengan kondisi sekarang. Pandemi telah mengubah tatanan bisnis, cara kita bekerja, dan bersosialisasi. Buku ini menitikberatkan pentingnya beradaptasi sebagai sebuah keharusan dan tidak bisa ditawar lagi oleh praktisi PR.

Judul Adapt or Die terasa bombastis. Sepertinya sengaja diambil Agung Laksamana, Penulis sekaligus Ketua PERHUMAS Indonesia sambil melihat urgensinya PR untuk beradaptasi dan berubah jika tidak ingin profesi ini hilang atau punah.

Agung membuka bab pertama dengan judul A whole new world! mengutip lirik lagu dari animasi Aladdin (1992). Lirik ini relevan pada tahun 2020 ini karena kita pun berada di era A Whole New World atau sebuah dunia yang baru.

“Inilah realita saat ini. Ada AI, Robot, jurnalisme baru, influencers baru dan COVID-19 yang telah mengubah dunia. Lanskap industri PR termasuk praktisi PR dipaksa segera berubah secepat mungkin menyesuaikan diri dengan ‘dunia baru’ ini,” papar Agung.

Agung menilai sudah banyak profesi yang tergerus oleh kemajuan teknologi, salah satunya bisa jadi adalah PR. Kemunculan sosok-sosok berpengaruh di media sosial membuka peluang sekaligus tantangan bagi praktisi PR.

Kehadiran influencer, key opinion leader, SJW (Social Justice Warrior), buzzer, selebgram, selebtweet, dan lainnya telah mampu menghimpun massa dan menyampaikan pesan tertentu untuk menjadi sebuah gerakan yang cukup masif di media sosial, bahkan di dunia nyata. Di sinilah titik argumen buku ini, di mana PR harus adaptif,  jika tidak ingin obsolet bahkan punah.

Bisa dikatakan, buku ini menjadi cermin lanskap profesi PR dari kaca mata praktisi ahli seperti Agung Laksamana. Di samping profesinya, Agung adalah seorang penulis yang aktif dan kritis terhadap perkembangan profesi PR. Ini adalah buku Agung yang ke-empat.

Gaya tulisan Agung adalah bercerita. Baik dari hasil pengamatan dan pengalaman pribadi, hasil diskusi maupun referensi dari beragam obervasi, resensi opini, film,  dokumenter dan buku-buku yang ia baca selama ini.  

Buku ini ringkas terdiri dari 5 Bab dengan 135 halaman yang berisi kisah-kisah PR dan insights dari berbagai sumber. Sejumlah apreasiasi terhadap buku ini pun telah disampaikan. Di antaranya dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang menyatakan buku ini relevan dengan tren dan kompleksitas dunia Komunikasi saat ini.  Juga oleh Menteri Sekretaris Negara Prof Dr. Praktino, Founder & Chairman Markplus, Inc Hermawan Kartajaya, Tokoh Politik Sandiaga Uno, Founder Benihbaik.com Andy F Noya, CEO Freeport Indonesia Tony Wenas, Chairman IBSCD Sihol Aritonang, Founder LSPR Prita Kemal Gani, dan tokoh-toko lainnya.

Di akhir bab, Agung lontarkan pertanyaan fundamental, apa yang tidak akan berubah dalam di dunia PR dalam 10 tahun ke depan? Di sinilah argumentasi Agung bahwa hal yang paling mendasar dari dunia PR itu sendiri, yaitu membangun relationship dan trust.

“Bagi Anda praktisi PR dan komunikasi, buku ini akan memperkaya dan mempersiapkan Anda dalam menghadapi, A whole new world of PR,” tutup Agung.

MARKETEERS X








To Top