Alasan Indonesia Tetap Jadi Pasar Investasi Besar Tahun Depan

profile photo reporter Septi Wijayani
SeptiWijayani
14 Desember 2016
marketeers article
Di tengah ketidakpastian situasi politik dan ekonomi global, Indonesia akan terus menawarkan peluang investasi yang menarik bagi para investor pada tahun 2017. Setelah volatilitas jangka pendek mereda, Asia terutama Indonesia, akan tetap menjadi tujuan investasi global karena fundamental yang kuat dan potensi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Hal ini dikatakan Katarina Setiawan, Chief Economist and Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia ( MAMI) di Jakarta, beberapa waktu lalu.
“Walau tidak kebal terhadap guncangan eksternal, namun saat ini Indonesia berada dalam kondisi yang lebih siap dibandingkan saat tahun 2013 dan 2015 lalu. Cadangan devisa telah meningkat, sementara defisit transaksi berjalan telah jauh menurun,” kata Katarina.
Katarina menambahkan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif telah memicu penguatan mata uang dolar AS dan meningkatkan arus dana asing keluar dari Indonesia. Ini yang dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia. Akan tetapi, dengan semakin membaiknya defisit neraca berjalan disertai dengan kecukupan cadangan devisa di atas rata-rata delapan bulan impor, membuat ekonomi Indonesia diyakini tetap kokoh.
Dari sisi perdagangan dan investasi, lanjut Katarina, ekonomi Indonesia relatif terisolasi karena lebih berorientasi pada konsumsi domestik. Eksposur Indonesia terhadap perdagangan dengan Amerika Serikat dan perdagangan global secara keseluruhan termasuk yang terendah di antara negara-negara Asia lainnya. Beragam kondisi tersebut membuat Indonesia relatif terlindungi dari dampak negatif ketidakpastian situasi politik dan ekonomi global.
Sementara itu, Direktur Investasi MAMI Alvin Pattisahusiwa yakin tahun 2017 akan menjadi tahun pertumbuhan bagi Indonesia. Alvin menuturkan, pemulihan pasar masih akan terus berlanjut pada tahun 2017 seiring dengan estimasi pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5,0% – 5,2%.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari kebijakan pro pertumbuhan yang telah diterapkan, baik kebijakan fiskal melalui paket-paket kebijakan pembangunan yang telah diluncurkan oleh pemerintah maupun kebijakan moneter longgar dari Bank Indonesia.
Selain itu, keberhasilan program amnesti pajak juga membawa dampak positif dalam meningkatkan penerimaan pajak negara dan memperbesar basis data wajib pajak untuk kesinambungan postur anggaran pendapatan dan belanja negara.
“Konsumsi domestik masih akan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017. Akselerasi pembangunan infrastruktur akan mendorong kegiatan investasi, sehingga lebih berperan dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi,” ujar Alvin.
Kondisi ekonomi yang semakin membaik tentunya memberikan peluang investasi. Alvin menyarankan para investor untuk terus berinvestasi tahun depan sesuai dengan tujuan dan toleransi tingkat risiko. Pasalnya, pemulihan di pasar saham dan obligasi masih akan terus berlanjut, terlebih dengan masih rendahnya suku bunga nanti.
“Perbaikan ekonomi yang didukung oleh kebijakan pro pertumbuhan dari pemerintah dan Bank Indonesia memberikan peluang bagi investasi di reksa dana saham dan pendapatan tetap. Kedua jenis reksa dana ini berpotensi memberikan imbal hasil yang atraktif,” tandas Alvin.
Editor: Sigit Kurniawan

Related