Retail & Property

Alphonzus Widjaja, Otak di Balik Kesuksesan AEON Mall BSD

Photo Credit: Dok. Sinarmas Land

Berdiri di atas lahan seluas 20.000 hektare, AEON Mall telah menjadi ikon unik dari BSD City. Mal serba Jepang ini berhasil menyedot perhatian publik dan menjadi tren baru di dunia pusat belanja.

Pertanyaan sederhana pun muncul, apa yang membuat AEON Mall BSD berhasil? Banyak orang mengira bahwa mal hasil joint venture antara AEON Mall Jepang dengan Sinarmas Land ini benar-benar mengadopsi 100% konsep AEON di negeri asalnya. Padahal, meski sama-sama AEON, konsep yang dihadirkan di dua negara itu amat berbeda.

Retail & Hospitality CEO Sinarmas Land Alphonzus Widjaja mengatakan, AEON di Jepang hanya berfungsi sebagai pusat belanja. Sedangkan di Indonesia, AEON dikembangkan tidak hanya sebagai shopping center, melainkan juga lifestyle center.

“Ada fungsi lifestyle sebagai tempat hangout, meeting point, tempat orang cari hiburan. Fungsi-fungsi ini yang kami terapkan di AEON BSD City,” kata Aphons saat ditemui di kantornya di Sinarmas Land Plaza Jakarta.

Ia mengatakan, mal saat ini harus keluar dari definisi tradisionalnya sebagai pusat belanja. Ia harus mampu bersifat hybrid menjadi bagian dari gaya hidup. “Karena gaya hidup itu selalu berubah, mal pun demikian, harus mampu merespons perubahan di pasar,” teragnya.

Sebab, katanya, tak jarang banyak mal mendulang kemahsyuran pada masa awal mal itu berdiri. Akan tetapi, mal ditinggal pengunjungnya karena sudah dicap jadul dan dianggap tak mampu memenuhi gaya hidup masyarakat saat ini.

Mengamati perubahan gaya hidup masyarakat menjadi fokus Alphons dalam mengelola AEON Mall agar tidak ramai di awal-awal saja. Jelas, diferensiasi AEON Mall teretak pada pengalaman serba Jepang yang ditawarkan dari mulai masuk mal, susunan interior bangunan, hingga kuliner-kuliner yang dihadirkan.

“Tak heran, konsep serba Jepang yang diusung AEON mulai diadopsi oleh mal-mal lain. Artinya, AEON mampu menciptakan tren yang berhasil menarik perhatian pengunjung untuk terus datang,” pungkasnya.

Atmosfir Jepang juga dirasakan dari struktur bangunan. Parkir dibuat terang dan jarak antarmobil tidak sempit. Jarak parkir dengan mal dipisahkan dengan “jembatan” kecil untuk menetralisir sirkulasi udara.

Hal kecil seperti toilet pun turut menjadi perhatian AEON Mall. Jika mal-mal lain menaruh toilet di lokasi tersembunyi dan lorongnya dibuat berkelok, AEON justru menaruhnya di koridor yang mudah dikunjungi. Terlebih dahulu, terdapat sofa melingkar sebagai “partisi” menuju toilet.

“Di mal-mal lain, toilet dibuat jauh dan berkelok-kelok. Customer kerap dibuat pusing,” ucap dia.

Kompetisi Sesama AEON

Kendati demikian, AEON sebentar lagi tidak hanya berada di BSD semata. Pasalnya PT AEON Indonesia telah menjalin kerja sama serupa dengan pengembang lain untuk membuka AEON Mall di berbagai wilayah, antara lain di Sentul dan di Jakarta Timur.

Menanggapi hal itu, Alphons mengatakan, konsep yang dibawa AEON Mall BSD City akan berbeda dengan AEON lainnya yang ada di Indonesia.

“Kuncinya adalah merespons perubahan yang terjadi, tidak hanya sesama AEON, melainkan juga dengan mal-mal lain. Sepanjang kami memberikan satu alteratif baru kepada customer, mereka akan terus suka dengan mal kami,” jawabnya.

Apalagi, sambungnya, karakter orang Indonesia adalah suka berkumpul. Tak heran, meja-meja restoran yang ada di mal berukuran besar untuk menampung kebiasaan makan bersama dengan teman dan keluarga.

“Kami tidak khawatir dengan e-commerce. Sebab, online tidak mampu memberikan shopping experience. Mal akan tetap ramai karena memang menjadi gaya hidup,” tutur Wakil Ketua APPBI ini.

Keberhasilan AEON Mall BSD City memang telah terbukti sejak mal ini buka pertama kalinya pada Mei 2015 lalu. Tingkat keterisian tenan di mal ini (okupansi) telah menyentuh 90% pada saat mal dibuka. Kini, Alphons bilang, malnya telah mengantongi 99% okupansi. “Minimal tenan yang masuk mengantri tiga tahun,” imbuhnya.

Dalam mengelola mal, tenant mixed juga penting. Komposisi antara ritel fashion, food & beverage, tempat hiburan dan playground harus seimbang. Sebab, tiap tenan berkorelasi dengan waktu kunjungan yang mempenrauhi trafik.

“Belum tentu mal yang porsi F&B banyak bakal sukses. Sebab, manusia makan hanya dua kali, siang dan malam. Jadi, ramainya di jam-jam makan saja,” terangnya.

Berdasarkan catatan Alphons, jumlah pengunjung AEON Mall BSD City sebanyaj 25.000-30.000 orang pada weekdays, dan meningkat dua kali lipat atau 50.000 jiwa pada weekend.

Selain AEON Mall, BSD City juga memiliki dua pusat belanja lain, yaitu The Breeze dan QBig. Nah, properti yang terkahir disebut itu berdiri di atas 17,5 hektare

Q-Big BSD City adalah Retail Complex satu lantai berkonsep Power Center dengan berbagai anchor tenant seluas 5.000 m2-10.000 m2, di antaranya LuLu Hypermarket, Multi 10, Informa, Ace Hardware, Courts Megastore, dan lainnya. Q-Big akan diluncurkan pada 16 Desember 2016 dengan menelan biaya pembangunan sebesar Rp 600 miliar di luar tanah.

“Sinarmas Land kalau meluncurkan produk tidak ada istilah soft atau grand launching. Semuanya harus 100% sudah ready,” ucap Aplho

Editor: Sigit Kurniawan

 

MARKETEERS X








To Top