Amerika Serikat Rancang Kebijakan Khusus Akhiri Krisis Semikonduktor

profile photo reporter Medikantyo Adhikresna
MedikantyoAdhikresna
02 Agustus 2022
marketeers article
Ilustrasi proses produksi semikonduktor, sektor manufaktur ini di Amerika Serikat disebut masih mengalami krisis. (FOTO: 123RF)
Titik terang akhir krisis semikonduktor di Amerika Serikat mulai terlihat seiring lolosnya rancangan kebijakan khusus bertajuk Chips and Science Act pada Kamis (30/7/2022) lalu. Paket kebijakan senilai US$ 280 miliar tersebut mendapat persetujuan dari parlemen setempat, usai lebih dahulu memasuki tahap pemungutan suara di antara para legislator.
Kebijakan tersebut mencakup solusi krisis berupa pendanaan sebesar US$ 52 miliar, untuk produsen chip semikonduktor yang mempunyai fasilitas produksi dalam wilayah Amerika Serikat. Selain itu, terdapat alokasi bantuan sebesar US$ 200 miliar terkait riset dan pengembangan produk dalam jangka panjang. Dorongan itu diharapkan kembali menempatkan negeri Paman Sam sebagai produsen semikonduktor teratas secara global. 
“Selama beberapa dekade terakhir banyak pengamat meragukan upaya untuk mempertahankan sejumlah sektor manufaktur di Amerika Serikat. Saya sendiri tidak pernah percaya pada anggapan tersebut. (Dengan adanya kebijakan ini) akan ada peluang kerja di bidang manufaktur yang tersedia kembali dan jumlahnya dapat bertambah banyak,” kata Joe Biden, Presiden Amerika Serikat, seperti dilansir dari laman The Verge.
Persaingan dengan produsen asal Asia belakangan ini mampu menggeser posisi perusahaan seperti Intel sebagai pemasok komponen semikonduktor utama dunia. Di sisi lain, adanya tekanan berupa kurangnya suplai bahan baku dan faktor produksi lain turut memengaruhi keterbatasan kapasitas produksi komponen tersebut. Problem ini lantas memengaruhi kegiatan usaha sektor lain seperti otomotif dan perangkat elektronik.
Besaran kontribusi perangkat semikonduktor buatan Amerika Serikat, tercatat sudah menurun sebelum terjadinya krisis suplai secara global dua tahun belakangan. Seperti dilansir dari laman Bloomberg, pangsa pasar komponen semikonduktor yang diproduksi di negeri adidaya itu hanya mencapai 12% pada Juli 2022. Jumlah itu jauh menurun dibandingkan raihan 37% pada tahun 1990.
Rencana pengembangan kapasitas produksi komponen semikonduktor di Amerika Serikat juga diramalkan hanya dapat meningkat 6% dalam beberapa tahun mendatang. Berdasarkan perkiraan analis yang disampaikan oleh Bloomberg, prediksi peningkatan kapasitas tersebut berada jauh di bawah estimasi pertumbuhan serupa di Cina yakni 40%.
Adanya krisis semikonduktor di Amerika Serikat, baik dari skala produksi maupun perlambatan pertumbuhan, turut menimbulkan kekhawatiran bagi keamanan nasional negara tersebut. Institusi militer Amerika Serikat disebut membutuhkan 1,9 miliar unit chip semikonduktor untuk keperluan produksi senjata hingga merakit perangkat komunikasi.
Editor: Ranto Rajagukguk

Related