Apa yang Twitter Pasca-akuisisi Elon Musk Bisa Pelajari dari Meta

profile photo reporter Maida Beryl S
MaidaBeryl S
29 April 2022
marketeers article
Foto: ©kunilanskap/123RF.com
Fenomena akuisisi Twitter oleh bos Tesla Elon Musk menimbulkan beragam respons masyarakat, termasuk para pakar ekonomi. Banyak spekulasi yang mengarah ke kekhawatiran terkait masa depan salah satu media sosial raksasa ini di tangan Elon Musk. Namun, tampaknya masih terlalu dini untuk menilai nasib Twitter sebagai elegi. Pasalnya, bukan perubahan atau pengambilalihan yang menjadi ancaman terbesar bagi Twitter atau platform media sosial raksasa lain, melainkan momok persaingan di pasar media sosial yang semakin ketat. 
Fenomena ini pun menarik perhatian Iwan Setiawan, CEO Marketeers. Co-author dari buku trilogy buku Marketing 3.0, 4.0, dan Marketing 5.0 ini mengatakan bahwa Twitter perlu memperbaiki reputasinya seiring dengan intended positioning Elon untuk menjadikannya free-speech platform. “Twitter juga harus terus meremajakan dirinya, salah satunya dengan semakin memperkuat diri di komunitas NFT,” lanjut Iwan.
Selain itu, Twitter dan para pemain lain dapat berkaca pada sejumlah kasus penutupan platform jejaring sosial seperti Vine, Path, atau BBM. Fenomena ini menunjukkan bahwa persaingan antara platform media sosial kian memanas. Melihat kondisi sekarang, Facebook menjadi salah satu contoh media sosial raksasa yang mengalami penurunan performa dalam perebutan pangsa pasar.
Jika melihat beberapa tahun ke belakang, Facebook menghadapi serangkaian kejadian yang menimbulkan pemberitaan buruk pada platform tersebut seperti pemilihan Presiden AS 2016, skandal Cambridge Analytica, gerakan #DeleteFacebook, genosida di Myanmar, denda US$ 5 miliar untuk pelanggaran privasi, atau pelapor “Facebook Files”. Baru-baru ini, Meta Platform Inc (nama baru Facebook Inc) melaporkan bahwa Facebook telah kehilangan 500.000 pengguna harian global pada kuartal keempat tahun 2021.
Meninjau kondisi Facebook lebih dalam, bukan hanya pemberitaan buruk pada platform tersebut yang menimbulkan penyusutan pengguna dan berkurangnya daya tarik Facebook pada masyarakat. Tetapi, yang menjadi faktor terbesar pada kemunduran Facebook dalam beberapa tahun terakhir karena faktor ‘kebosanan.’
Sumber permasalahan dari ancaman eksistensial yang dihadapi oleh Facebook berasal dari Facebook itu sendiri. Dengan populasi saat ini yang didominasi oleh kaum muda, yakni generasi milenial dan generasi Z, pengguna aktif media sosial pun ikut didominasi oleh kaum tersebut.
Facebook dipersepsi untuk segmen muda yang lebih tua, yaitu milenial. Sehingga ditinggalkan oleh segmen muda yang lebih muda, yaitu Gen z. Selain itu, reputasi Facebook yang terganggu beberapa tahun belakangan tidak sepenuhnya bisa diperbaiki,” lanjut Iwan. 
Data pun menunjukkan kondisi yang sama. Berdasarkan internal data scientist team Facebook, kebanyakan generasi muda sebagai potential users menganggap Facebook sebagai platform untuk orang tua dan kerap menyajikan konten yang membosankan, menyesatkan dan negatif. Para kaum muda lebih banyak menggunakan platform media sosial dengan konten yang relevan dan mudah dikonsumsi seperti TikTok. 
“Kami mengetahui bahwa kompetisi layanan yang kompetitif pada pasar media sosial berdampak negatif pada pertumbuhan Facebook, terutama dengan audiens yang lebih muda,” kata CFO Facebook David Wehner mengutip dari laman Quartz.
Tidak hanya pada Facebook, hal ini juga terlihat pada kasus platform-platform lain yang telah meninggalkan pasar. Ketidakmampuan platform untuk mengembangkan fitur dan layanan mereka akan sangat berpengaruh pada ketertarikan masyarakat. Ketidakmampuan inilah yang membuat platform Vine, media sosial yang menghadirkan short form video, mengalami keruntuhan secara mendadak. 
Melansir artikel The Verge, popularitas Vine meroket dengan cepat setelah diluncurkan pada tahun 2013. Namun sayangnya, masa kejayaan Vine tidak berlangsung lama, Vine terpaksa menutup layanannya pada Oktober 2016. Vine tidak dapat bersaing dengan para pemain lain seperti Instagram dan Snapchat karena ketidakmampuannya untuk berkembang dan mengikuti pengguna. Perbedaan antara konsep platform hiburan yang ditawarkan dengan pengalaman yang dirasakan pengguna menimbulkan penilaian buruk pada Vine. Ditambah, Vine tidak dapat menghadirkan fitur dan layanan yang sesuai dengan keinginan pengguna.
Dengan kondisi masyarakat yang terus terpapar perkembangan teknologi, demand terhadap fitur dan layanan yang lebih inovatif dan mudah akan semakin tinggi. Para pengembang platform media sosial harus lebih pintar dalam menentukan nilai jual yang bisa ditawarkan kepada potential users. 
Gabungan dari dua erosi, yakni penilaian buruk terhadap platform dan kemunculan kompetitor, dapat dengan mudah menumbangkan sebuah platform media sosial. Kembali ke kasus Twitter, akuisisi yang dilakukan oleh Elon Musk dan perubahan yang akan dilakukannya mungkin tidak akan mengubah pengalaman pengguna dalam waktu semalam. Namun, pengalaman buruk yang diberikan secara berulang kepada pengguna dapat membuat Twitter kehilangan penggemarnya. 
Marketer dapat belajar dari persaingan platform media sosial yang terjadi saat ini. Tidak peduli di mana dan bagaimana sentimen publik berdiri, ancaman paling besar yang mengakar bagi sebuah bisnis adalah apa pun yang mungkin muncul untuk menggulingkannya. Selain membangun brand reputation yang baik di mata konsumen, penting untuk mempersiapkan amunisi agar mampu menghadapi ancaman yang dapat muncul dari kompetisi di pasar.
Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

Related