Opinion

Bagaimana Pandemi Memperkuat Industri Fotografi & Videografi?

Artikel ini ditulis oleh Enriquo Samuel – VP of Commercial & Partnership Fotto by SweetEscape

****

Tahun 2020 akan selalu diingat sebagai masa pandemi, di mana semua masyarakat harus beradaptasi untuk melakukan aktivitas dari rumah. Berbagai tantangan sudah dilewati demi bertahan hidup di tengah wabah virus COVID-19.

Satu tahun pandemi berlalu tentu tidak mudah, namun tahun 2020 juga merupakan tahun dimana akselerasi adopsi teknologi kian bertumbuh pesat. Awalnya masyarakat resistant dengan transformasi digital yang terjadi dalam penerapan teknologi di kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan sekarang, seluruh masyarakat dituntut untuk memanfaatkan teknologi demi kesehatan bersama. Mulai dari belanja online hingga transaksi pembayaran non-tunai di gerai offline mulai diterapkan untuk meminimalisir kontak fisik. Dapat dikatakan bahwa pandemi telah mempercepat adopsi teknologi di era digital. Untuk itu penerapan teknologi yang tepat dapat mengubah tantangan menjadi opportunity, terlebih bagi industri ekonomi kreatif.

Sama halnya dengan yang terjadi di industri fotografi dan videografi. Selama pandemi, pelaku industri ini beradaptasi dengan keadaan dimana tidak boleh dilakukan pemotretan dan shooting karena adanya pembatasan sosial, tidak boleh ada kegiatan tatap muka, hingga tidak boleh adanya kontak fisik antara subject (fotografer / videografer) dengan object (talent/model/produk).

Hal tersebut membuat para pelaku industri fotografi dan videografi harus berinovasi dan sigap mengambil kesempatan untuk menciptakan konten berkualitas, yang relevan dengan target pasar serta aman dieksekusi selama pandemi.

Pelaku industri fotografi dan videografi bergegas menyesuaikan diri dengan keadaan new normal dan menempatkan diri dalam risiko, jadi harus berhati-hati dalam menghasilkan karya dan banyak memanfaatkan teknologi dalam produksi.

Penerapan protokol kesehatan sangat penting untuk dilakukan, bukan hanya untuk tim produksi namun juga untuk kepentingan klien. Salah satu contohnya adalah semua produksi dapat dipantau secara virtual dari jarak jauh. Meminimalisir semua kontak fisik juga mengurangi jumlah kru yang turun langsung ke lapangan untuk produksi.

Sebelum pandemi dahulu membutuhkan puluhan bahkan ratusan kru untuk membuat video iklan atau video komunikasi, namun saat pandemi banyak produksi melakukan efisiensi jumlah crew hanya 10-20 orang maksimum dan membiasakan untuk melakukan shooting di lokasi outdoor.

Jika tidak memungkinkan untuk merekam sesuatu yang baru atau melakukan shooting di lokasi outdoor, tim produksi dituntut untuk menjadi super kreatif dan produktif. Dalam kasus tertentu output video dapat dilakukan dengan konsep animasi atau grafik gerak.

Dalam kasus lain, pengambilan video sendiri atau UGC (User Generated Content) juga dapat di implementasikan dengan menggunakan smartphone. Caranya adalah dengan mengirimkan kit pembuatan video sendiri kepada talent dengan menyertakan lampu dan mikrofon kecil.  Tim produksi dapat memantau dari jarak jauh melalui video conference dalam proses pengambilan gambar tersebut.

Perlahan, bisnis dan industri mulai beradaptasi dengan konsep new normal hingga produksi virtual dengan implementasi teknologi meningkat secara signifikan. Dengan kondisi minim kontak fisik, semua komunikasi yang terjadi dari bisnis atau brand kepada konsumen dilakukan melalui secara virtual dan dibungkus menjadi konten visual yang berkualitas.

Live streaming, online event, virtual conference, video interview, online digital campaign merupakan konten yang berkembang secara signifikan selama pandemi. Fotto dari SweetEscape sebagai platform video dan fotografi kreatif juga mengalami penyesuaian untuk dapat mengakomodir permintaan pasar. Fotto mengkoordinasi dan merampingkan produksi konten secara virtual dan dapat dilakukan dari mana saja dalam waktu bersamaan.

Contohnya sebuah brand multinasional membutuhkan video internal communication di 15 negara Asia Pasifik dan Afrika, melalui platform crowdsourcing, klien dengan mudah memanfaatkan jaringan fotografer dan videografer. Sehingga memungkinkan mereka melakukan eksekusi project skala besar dengan budget yang efisien. Jangka waktu yang dibutuhkan juga tidak berlangsung lama, karena seluruh aktivitas dilakukan secara sistematis dan terorganisasi demi menjaga keamanan baik talent/object maupun fotografer dan videografer yang terlibat.

Tak hanya itu, klien tidak perlu ada di lokasi shooting karena tim akan mengaplikasikan live review jarak jauh melalui video conference saat virtual shooting berlangsung. Sehingga semua diskusi dan produksi dilakukan secara virtual untuk meminimalisir kontak fisik secara langsung.

Penerapan inovasi dan teknologi dalam industri fotografi dan videografi diharapkan dapat mendukung program pemerintah untuk mencapai kebangkitan industri ekonomi kreatif dan digital Indonesia menjadi sektor kebanggaan dan unggulan di tahun 2045. Melihat dari perkembangan digital ekonomi kreatif, data menunjukkan bahwa terdapat 11,7 juta pelaku SMEs terlibat dalam industri ini. Kedepannya seiring potensi digital ekonomi kreatif semakin berkembang, kebutuhan dari konten visual yang berkualitas harus bisa memanfaatkan dan memberdayakan teknologi hyperconnectivity bagi pelaku industri fotografi dan videografi di Indonesia.

MARKETEERS X








To Top