Digital

Bagaimana Warung Makan Harus Berinovasi Saat Pandemi

Sumber: Wahyoo

Kondisi pandemi yang masih melanda membuat perekonomian masih melemah. Di tengah kondisi ini, segalanya masih terbatas, menyebabkan beberapa usaha masih mengalami perlambatan terutama usaha kecil dan menengah (UKM). Warung makan menjadi salah satu yang terkena dampak besar dari pendemi yang melanda.

Pada awal tahun 2021, pemberitaan mengenai tutupnya beberapa warung makan santer diberitakan. Hal ini menyusul kegiatan ekonomi yang masih terbatas. Beberapa berita mengabarkan banyak warung makan yang tidak bisa beradaptasi terhadap syarat pembatasan dan protokol kesehatan. Beberapa juga mengabarkan banyak konsumen yang merasa takut bahwa warung makan bisa menjadi sumber penularan virus.

Dikatakan oleh Peter Shearer, Founder & CEO Wahyoo Group yang merupakan startup yang bergerak untuk mendigitalisasi UKM kondisi ini tidak terjadi pada warung makan binannya. Sebanyak 16 ribu mitra warung makan yang tersebar di Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang diklaim masih beroperasi.

“Memang beberapa mengalami penurunan, terutama yang berada di lingkungan perkantoran. Namun, tidak sedikit juga yang mengalami pertumbuhan karena berhasil membangun kepercayaan pelanggan dengan standar kualitas makanan dan penerapan protokol kesehatan di warung makan,” jelas Peter.

Sepanjang tahun 2020, Wahyoo mendorong pemilik warung makan mempertahankan bisnisnya lewat langkah digitalisasi. Di tengah lanskap ekonomi yang sedang bertransformasi, pelaku UKM termasuk rumah makan harus melakukan hal yang sama. Tujuannya agar bisa berkembang seiring zaman dan dapat memenuhi ekspektasi konsumennya.

Pada tahun lalu, Wahyoo menghadirkan ragam inovasi dengan tujuan agar mitra warung makannya ikut berinovasi. Startup ini mulai memberikan fitur paylater untuk mempermudah mitranya berjualan secara daring. Wahyoo juga melirik potensi pertumbuhan bisnis dengan mambantu mitranya mendaftarkan diri ke platform pesan antar makanan. Fitur-fitur ini melengkapi ekosistem digitalisasi warung Wahyoo yang sebelumnya telah menghadirkan sistem supply chain dan value chain melalui aplikasi smartphone.

“Nama Wahyoo memang besar dalam mendigitalisasi warteg, namun pada dasarnya kami berusaha memfasilitasi transformasi digital rumah makan. Jadi, ada juga mitra yang menjual mie ayam dan berbagai jenis menu lain. Kehadiran mitra Wahyoo di layanan pesan antar dapat memperluas pasar mereka,” tambah Wahyoo.

Warung New Normal

Selain transformasi digital, cara lain yang dilakukan Wahyoo untuk mendorong adaptasi warung makan adalah dengan menerapkan program Warung New Normal. Dalam program ini, Wahyoo memfasilitasi mitra warung makannya dengan sekat plastik yang memastikan pelayanan di warung tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Permasalahan utama dari UKM dalam menghadapi pandemi adalah bagaimana mereka menyikapi keadaan dan beradaptasi. Dengan adaptasi yang baik sembari berinovasi, warung makan mitra Wahyoo berhasil survive,” pungkas Peter.

Editor: Ramadhan Triwijanarko

MARKETEERS X








To Top