Bahaya Penggunaan Emoji di Tempat Kerja, 🤔?

profile photo reporter Clara Ermaningtiastuti
ClaraErmaningtiastuti
17 Oktober 2022
marketeers article
Penggunaan emoji ternyata harus dilakukan dengan hati-hati. | Foto: 123RF

Emoji kini menjadi sesuatu yang lumrah digunakan ketika berkomunikasi menggunakan aplikasi pesan singkat. Namun, ternyata pengguna harus berhati-hati. Mengapa?

Tidak sedikit emoji membawa kesalahpahaman atau disalahartikan oleh penerima pesan. Dilansir dari DailyMail, hasil survei kepada 2.000 responden di rentang usia 16-29 tahun menemukan bahwa menurut mereka, icon-icon tersebut hanya digunakan oleh “orang-orang tua”.

Sejumah Gen Z melihat thumbs up atau ibu jari itu sebagai sesuatu yang kasar. Beberapa di antara mereka bahkan menganggap sebaiknya emoji tidak digunakan di situasi apapun karena dapat menyinggung.

Konsultan bisnis asal Australia Sue Ellson mengungkapkan dirinya yakin bahwa kata-kata lebih baik dibandingkan dengan simbol dalam dunia profesional. Hal ini terlihat dari bagaimana orang merasa kecewa ketika mendapatkan respons emoji.

“Penting untuk memahami dinamika di tempat kerja Anda sebelum mengirimkannya. Saya rasa orang-orang “terlalu malas” untuk menulis respons. Dan lagi, pada akhirnya balasan itu tidak memberikan kejelasan tentang langkah selanjutnya,” jelas Ellson.

Lebih lanjut, Ellson menuturkan ketika seseorang menggunakan thumbs up akan ada banyak opsi penafsiran. Apakah artinya Anda akan melakukan sesuatu, menyetujui apa yang dikatakan pengirim pesan, atau sekadar konfirmasi bahwa pesan tersebut telah Anda terima?

Jika Anda tetap ingin menggunakannya dalam pembicaraan, maka disarankan penggunaan icon yang dasar untuk menghindari kekeliruan penafsiran.

Sebuah studi yang dirilis pada tahun 2020 bertajuk Computers in Human Behavior menunjukkan makna dari emoji dapat beragam. Tidak hanya bergantung pada generasi yang melihatnya tetapi juga gender.

“Laki-laki melihat emoji berpikir sebagai sesuatu yang sedikit positif. Sedangkan perempuan merasa sedikit negatif,” jelas seorang peneliti Lara Jones, dilansir dari Wall Street Journal.

Pada akhirnya, penggunaan emoji dalam pembicaraan kita sehari-hari kepada siapa pun harusnya menjadi pengembang kata-kata di dalam pesan Anda. Bukan menggantikan kata. Dan, jangan lupa bahwa penting untuk memahami budaya dari lingkungan kerja Anda.

Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

Related