Bandung Disebut sebagai Kota Slow Living, Apa Maksudnya?

marketeers article
Ilustrasi slow living (Foto: 123rf)

Media sosial, khususnya TikTok, baru-baru ini tengah dihebohkan dengan sebuah konten yang menyebut Bandung sebagai kota slow living. Tak sedikit warganet yang menganggap si content creator terlalu meromantisasi Bandung, sehingga dirinya dijadikan bahan guyonan.

Kenapa Bandung? Menurut gua, Bandung itu menjadi salah satu kota yang pergerakannya itu tenang, pelan, gak terburu-buru. Ini menurut gua gak kayak Jakarta yang apa-apa tuh serba cepat,” ujar lelaki dalam video tersebut.

Pernyataan itu lantas menuai beragam respons dari warganet, salah satunya musisi Fiersa Besari. Ia sepakat bahwa Bandung adalah kota slow living, namun dalam artian lain, yang tidak sama dengan yang dimaksud si pembuat konten tersebut.

BACA JUGA: Slow Living: Memaknai Setiap Momen Kehidupan, Cepat Tidak Selalu Baik

Kenapa Bandung? Karena slow living. Alias slow banget arus lalu lintasnya. Apalagi di perempatan Samsat,” cuitnya di akun X @FiersaBesari, dikutip Senin (18/3/2024).

Lantas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan slow living? Melansir laman Slow Living LDN, berikut penjelasannya:

Makna Gaya Hidup Slow Living

Slow living adalah sebuah konsep yang menekankan gaya hidup lebih sederhana dan santai. Pola pikir hidup yang slow ini akhirnya mendorong seseorang untuk hidup penuh kesadaran diri, yang lantas membantu mereka merasa lebih bahagia.

Slow living juga dapat dimaknai sebagai gaya hidup yang menekankan pada kualitas daripada kuantitas. Misalnya, dengan mengalokasikan waktu untuk diri sendiri, makan dengan santai, atau menghabiskan waktu bersama orang tersayang.

Minat terhadap gaya hidup ini meningkat selama pandemi COVID-19. Ini terbukti dari laporan Google yang menyebut ada peningkatan empat kali lipat dalam jumlah video YouTube dengan judul ‘slow living’ pada tahun 2020 dibandingkan 2019.

BACA JUGA: Mengenal Konsep Frugal Living dan Langkah Praktisnya

Peningkatan tersebut tak mengherankan, mengingat selama pandemi COVID-19, pergerakan orang-orang dibatasi. Dengan begitu, mereka menjadi punya waktu untuk slow down dan mulai kembali berpikir untuk menata kehidupannya.

Sayangnya, masih terdapat sejumlah kekeliruan soal gaya hidup slow living. Salah satunya anggapan yang menyebut hidup yang slow hanya bisa didapat oleh mereka yang tinggal di pedesaan. 

Padahal, slow living tergantung pada pola pikir seseorang, entah tinggal di Ibu Kota yang ramai atau dusun. Begitu pun dengan anggapan yang menyebut slow living berarti bebas teknologi. Padahal, perangkat teknologi ada untuk membantu kehidupan, bukan mengganggu.

Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa hidup slow living berarti tetap bisa sukses atau produktif. Justru, slow living mengajarkan tentang bagaimana memprioritaskan apa yang paling penting bagi Anda.

Demikianlah makna gaya hidup slow living. Tertarik untuk menerapkannya?

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS