Banyak Pengajuan KPR Tidak Disetujui, Ini Alasannya

profile photo reporter Sigit Kurniawan
SigitKurniawan
19 April 2022
marketeers article
Industri properti di Indonesia masih menemui sejumlah tantangan. Salah satunya berasal dari pihak konsumen properti, khususnya terkait dengan kurang kuatnya literasi finansial saat mereka mengajukan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) ke bank. Hal ini disampaikan oleh portal Lamudi.co.id melalui keterangan resminya. Menurutnya, edukasi terkait literasi finansial perlu ditingkatkan mengingat tingkat disetujuinya pengajuan KPR masih berkisar 19,8%. Artinya, ini menjadi salah satu persoalan di balik banyak pengajuan KPR tidak disetujui.
Realitas ini muncul di saat pemerintah mengalokasikan dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebesar Rp 23 triliun untuk membantu masyarakat masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk mensubsidi pembelian rumah melalui penyaluran KPR ke bank.
Oleh karenanya, kolaborasi antara pemerintah dengan pengembang penting, khususnya dalam menyediakan alternatif perumahan dengan harga terjangkau. Pengembang, agen properti, dan bank diharapkan meningkatkan edukasi literasi finansial. Tujuannya, agar masyarakat lebih memahami kondisi finansial mereka. “Pengembang dan agen properti harus lebih siap memainkan peran proaktif dalam edukasi publik,” ujar Mart Polman, CEO Lamudi.co.id.
Edukasi finansial tersebut menyangkut penentuan bujet membeli rumah, pengetahuan tentang uang muka minimal, tenor KPR, pelunasan cicilan yang tertunggak, manajemen keuangan, dan pentingnya asuransi properti. Dengan tingkat literasi finansial kuat, persoalan terkait banyak pengajuan KPR tidak disetujui secara bertahap bisa teratasi.
Sasar Milenial dan Gen Z
Menurut data dari Lamudi.co.id, Milenial dan Gen Z menempati posisi utama pencari properti di platformnya sebesar 53,2%. Kedua generasi ini cenderung menuntur kemudahan akses informasi pada pencarian properti, khususnya dalam pembiayaan rumah. Kedua generasi ini juga memiliki tingkat pendapatan yang beragam.
Sementara itu, menurut data Kementerian Keuangan, pembangunan rumah harga terjangkau untuk MBR masih pada tahap 56,75% dari 70% yang ditargetkan pada tahun 2024. Angka ini setara dengan sebelas juta rumah tangga.
“Ini merupakan peluang bagi pelaku sektor properti untuk mencari solusi jangka panjang dalam meningkatkan akses terhadap kepemilikan properti terutama dalam segi edukasi. Kami memastikan, jaringan agen yang bekerja dengan kami dibekali dengan kemampuan konsultasi properti yang menggabungkan pengetahuan pasar properti dan strategi pemasaran digital,” kata Mart.
Hingga saat ini, Lamudi.co.id kini telah bermitra dengan lebih dari 15 ribu jaringan agen properti yang dilengkapi dengan kemampuan konsultasi finansial untuk mendukung literasi keuangan para calon pembeli properti.

Related