Belanja Iklan Commercial Break Stagnan, Tapi Brand Punya Cara Lain

profile photo reporter Ramadhan Triwijanarko
RamadhanTriwijanarko
26 Agustus 2020
marketeers article
Amazed couple watching tv program sitting on a couch at home
Memasuki kuartal ketiga 2020, total belanja iklan menunjukkan tren yang positif, setelah mengalami posisi tertekan di kuartal kedua. Berdasarkan data Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel), total belanja iklan Januari – Juli 2020 mencapai angka Rp 122 triliun.
Televisi masih mendominasi 72% porsi belanja iklan dengan angka lebih dari Rp 88 triliun. Untuk TV, iklan di segmen jeda iklan (commercial break) bukanlah satu-satunya cara untuk menjangkau konsumen. Ada beragam bentuk iklan lain yang bisa dioptimalkan oleh brand seperti iklan terintegrasi di dalam program (running text, digital embed, superimpose, dll).
Menurut Hellen Katherina, Executive Director Nielsen Media Indonesia, tipe iklan yang terintegrasi dalam program terkesan lebih kreatif dan lebih tidak “disadari” oleh konsumen.
Brand memilih karena biasanya rating programnya tinggi, jumlah audiens program tersebut juga lebih banyak. Kalau commercial break itu banyak audiens yang mengganti channel. Di sisi lain karena terintegrasi jadi penerimaannya terkesan lebih rileks buat audiens,” terang Hellen.
Nielsen telah memonitor tipe iklan ini sejak 2017 dan terlihat kategori produk yang berbeda memilih tipe iklan ini. Khususnya di bulan Mei 2020, tipe iklan di dalam program mencapai titik tertinggi, dimana iklan di segmen commercial break program mengalami kondisi yang stagnan.
Beberapa program yang diminati oleh brand untuk menaruh produknya di dalam program tersebut adalah program dengan kategori sinetron, live music, program spesial, dan olahraga.

Related