Opinion

Bersiap Menyambut Datangnya Era Marketing 5.0

Ilmu marketing terus berevolusi. Di mulai dari era tradisional yang disebut Marketing 1.0 hingga menuju Marketing 5.0 sekarang ini. Masing-masing era menggambarkan tren perubahan yang terjadi dan bagaimana pemasar perlu beradaptasi.

Istilah Marketing 1.0, merujuk pada era ketika perusahaan fokus menciptakan produk-produk terbaik sehingga perusahaan bekerja dengan cara product-driven. Istilah Marketing 2.0 yang menitikberatkan pada customer-oriented.

“Mulai muncul segmentasi di era Marketing 2.0 karena setiap customer memiliki kebutuhan yang berbeda. Perusahaan pun mulai menciptakan berbagai jenis produk dengan harga yang lebih terjangkau sesuai dengan sasaran customer yang dituju,” ungkap Iwan Setiawan, CEO of MarkPlus, Inc yang juga sebagai penulis buku Marketing 5.0 bersama Prof Phillip Kotler dan Hermawan Kartajaya di acara MarkPlus Conference 2021.

Di era Marketing 3.0, para pemasar dituntut untuk menangkap hidden needs dari customer. Tidak hanya itu, perusahaan juga harus memperhatikan dampak yang diberikan oleh bisnis terhadap lingkungan sekitar dan komunitas sosial.

Marketing 4.0 berbicara mengenai pemasaran dalam konteks dunia digital (online dan offline). Pada era ini, dikenal pula New Customer Experience (CX) yang terjadi pada setiap tahapan customer journey. Terdapat lima tahapan customer journey yang disebut dengan 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate).

“Pada era Marketing 4.0, jejak customer berpindah-pindah dari online ke offline atau sebaliknya. Kami menyebut perilaku ini dengan omni experience.,” terang Iwan. 

Pergerakan ke arah Marketing 5.0 didorong oleh lima tren besar. Dimulai dari jumlah generasi digital-savvy yang besar, adopsi phygital lifestyle, dilema digitalisasi mulai dari dampak positif dan negatif, perkembangan teknologi yang matang, hingga simbiosis antara manusia dengan teknologi yang tidak bisa terpisahkan.

Pada dasarnya Marketing 5.0 berbicara mengenai Next Tech dan New CX. Ada lima komponen dasar Marketing 5.0, yakni data driven, predictive marketing, contextual marketing, augmented marketing, dan agile marketing.

“Marketing 5.0 itu persoalan new customer experience dengan next technology. Artinya, memberikan pengalaman kepada konsumen agar suka dengan produk dan layanan, kemudian diperkuat dengan menggunakan teknologi,” terang Iwan.

Pada era ini, optimalisasi bisnis dapat tercapai jika perusahaan mampu memanfaatkan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan. Kombinasi antara kekuatan teknologi dan manusia harus ditopang bersama. Hal ini disebut dengan istilah Next Tech atau bionics.

“Artinya, teknologi yang maju selalu mencoba meniru manusia. Manusia memiliki pemikiran, kreativitas, leadership, dan lain-lain yang tidak mudah untuk direplikasi ke dalam bentuk teknologi,” papar Iwan.

AI misalnya, mencoba meniru bagaimana otak manusia bekerja. Kemampuan manusia dalam berkomunikasi yang tak jarang kerap tidak terstruktur juga telah dicoba untuk direplikasi dengan teknologi Natural Language Processing (NLP).

Tidak berhenti sampai di situ, kemampuan sensing manusia mendorong kehadiran sensor tech, kemampuan moving melahirkan robotik, kemampuan berimajinasi menghasilkan mixed reality, hingga cara manusia dalam berkoneksi direplikasi ke dalam bentuk Internet of Things (IoT) dan blockchain.

Sedangkan, New CX berbicara mengenai jejak customer di setiap tahapan 5A yang bisa berpindah-pindah, entah dari kanal online ke offline atau sebaliknya.

“Dengan menggabungkan Next Tech dan New CX, maka customer experience akan semakin efisien, meaningful, dan bisnis dapat meningkatkan value lebih bagi para customer,” tutur Iwan.

MARKETEERS X








To Top