Digital

Bidik Pasar UKM, Investree Masuk Industri Bank Digital pada 2022

bank digital
Sumber gambar: 123rf.com

Platform peer to peer (P2P) lending Investree memantapkan diri untuk masuk pada ekosistem bank digital pada tahun 2022. Adapun pangsa pasar yang dibidik adalah para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) yang belum mendapatkan akses permodalan.

Co-Founder dan CEO Investree Adrian Gunadi mengatakan, transformasi bisnis yang dilakukan bertujuan untuk turut serta menggeliatkan industri bank digital yang kian menjadi tren. Ke depan, perusahaannya juga bakal menggaet lebih banyak kerja sama agar semakin melebarkan sayap.

“Strategi Investree ke depan itu kolaborasi dan tentu kita tidak bisa hanya bergantung kepada satu atau dua bank. Oleh karena itu kita harus memperbanyak porsi kerjasama dengan bank tersebut, termasuk salah satunya bank digital,” kata Adrian dalam dialog daring, dikutip, Kamis (13/1/2022).

Menurut dia, kerja sama tersebut dijalankan dengan skema channeling. Di mana bank berlaku sebagai pemberi pinjaman (lender) yang difasilitasi oleh Investree untuk disalurkan kepada peminjam (borrower).

Adapun, salah satu bank yang akan diajak kolaborasi oleh Investree di tahun ini adalah Bank Amar, yang belakangan santer dikabarkan akan diakuisisi oleh Investree, seperti yang dilakukan Gojek ke Bank Jago dan Akulaku Ke Neobank. “Sejauh ini kita masih fokus dengan kerjasama strategis melalui skema channelling dengan bank umum dan bank digital juga. Itu masih¬† menjadi salah satu fokus kita di tahun 2022,” ujarnya.

Untuk memasuki industri bank digital, kata Adrian, ia akan melakukannya dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Sebab, agar masuk lebih jauh ke ekosistem ini pihaknya masih mengkaji regulasi terkait digital banking tersebut, termasuk bagaimana arah pengembangannya ke depan.

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa kolaborasi dengan ekosistem bank sudah sejak 2018 dilakukan oleh Investree. Saat itu pihaknya menggandeng Bank Rakyat Indonesia (Bank BRI) sebagai mitra channeling dan terus berkembang hingga sekarang.

Bahkan, hingga saat ini tercatat bahwa kontribusi perbankan tersebut mencapai 50% dari total pendanaan yang tersedia di Investree. “Memang tidak bisa dipungkiri landscape digital bank meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Positioning dari kami lagi mengkaji tentunya dari sisi regulasi digital bankingnya arahnya ke mana,” ucapnya.

Sebagai informasi, per November 2021 fasilitas pinjaman yang berhasil disalurkan Investree mencapai Rp 4,6 triliun atau tumbuh sekitar Rp 1,6 triliun dibandingkan dengan penyaluran tahun lalu yang sebesar Rp 3 triliun. Dengan demikian, jika ditotal sejak berdiri hingga November 2021.

Fasilitas pinjaman yang berhasil direalisasikan oleh Investree adalah sebesar Rp 13,7 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 80% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Adapun, dari total penyaluran fasilitas pinjaman yang sebesar Rp 13,7 triliun tersebut, sebesar 8% di antaranya atau senilai Rp 1 triliun merupakan fasilitas pinjaman berbasis syariah.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

The Latest

To Top