Digital

Bisnis Bukan Sekadar Untung Rugi, RedDoorz Tunjukkan Empati via Red Heroes

Photo Credits: Kementerian Pariwisata

Bicara soal bisnis, bukan berarti sekadar bicara soal untung dan rugi. Untuk menjaga sustainabilitias bisnis, dibutuhkan lebih dari sekadar perhitungan angka. Salah satu faktor penentu adalah kepedulian perusahaan terhadap sekitar.

RedDoorz menjadi salah satu merek yang mampu mengimplementasikan hal ini. Cukup adaptif terhadap perubahan yang ada di tengah kondisi pandemi, RedDoorz yang notabene berangkat dari industri yang paling terdisrupsi (pariwisata dan perhotelan) justru tak ingin berdiam diri. Rasa empati mereka berikan dengan menghadirkan inisiatif Red Heroes di tiga negara sekaligus.

Melalui program Red Heroes, RedDoorz membantu memberikan layanan bagi para staf medis, antara lain menyediakan penginapan secara gratis. Di Indonesia, pemain bisnis Virtual Hotel Operator (VHO) ini menyediakan 99 kamar hotel untuk 130 orang tenaga medis COVID-19 di RedDoorz Plus Near Plaza Blok M dan RedDoorz Blora di Menteng.

Tidak hanya itu, RedDoorz juga memasok dan mendistribusikan perlengkapan penunjang kesehatan. Mulai dari masker wajah yang dapat dicuci, pembersih tangan berbasis alkohol, minuman berenergi, dan droplet hats. Sejauh ini, Red Heroes hadir di tiga negara, yakni Indonesia, Filipina, dan Singapura.

“Situasi ini tidak akan berubah kecuali kita dapat menyatukan upaya bersama dan menggunakan berbagai sumber daya yang kita miliki untuk melawan COVID-19.  Program Red Heroes merupakan inisiatif regional terbaru dari RedDoorz yang bertujuan membantu layanan bagi staf medis yang menjadi garis terdepan dalam memerangi COVID-19,” papar President Director RedDoorz Mohit Gandas di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Langkah RedDoorz menghadirkan Red Heroes sejalan dengan pandangan Founder & Chairman MarkPlus, Inc. Hermawan Kartajaya.

“Di situasi pandemi ini, ada perusahaan-perusahaan yang turun (storm), seperti pariwisata, dan ritel. Namun, ada pula yang tumbuh (windfall), seperti farmasi dan telekomunikasi. Ingat, kondisi storm dan windfall ini berakhir dalam jangka pendek. Dalam menghadapi pandemi, perusahaan harus menggunakan logika,” papar Hermawan.

Pertama, perusahaan perlu memikirkan diri mereka terlebih dulu agar bisa menyelamatkan orang lain. Namun, saat memikirkan diri sendiri, perusahaan perlu menunjukkan empati kepada masyarakat atau konsumen yang sedang tertimpa musibah. 

Terdapat tiga strategi besar ketika bicara mengenai marketing, yakni customer; product; dan brand management. Customer management harus mampu melihat anxiety dan desire.

“Di masa krisis ini, customer ingin dimengerti terkait kegelisahannya. Maka dari itu, brand harus menunjukkan empati, dan responsif. Dengan ini, brand masih dipandang positif di mata customer. Selain itu, di tahap servicing, brand harus menunjukkan reliability (gampang diakses, bisa diandalkan) dan assurance (jaminan rasa aman, dan lain-lain),” terang Hermawan.

RedDoorz sendiri telah mencoba memberikan rasa aman kepada para pelanggan dan karyawan mereka dengan sejumlah cara. Mulai dari meningkatkan frekuensi pembersihan dan penyemprotan disinfektan di area-area publik (lobi, lift, ruang serba guna, toilet), dan menyediakan hand sanitizer di berbagai area publik di seluruh properti.

MARKETEERS X








To Top