Business

Black Shark Jadi Target Akuisisi Tencent Demi Garap Bisnis Metaverse

Tencent Akuisisi Black Shark
Ilustrasi logo milik Tencent Holdings Ltd. yang dikabarkan bersiap mengakuisisi Black Shark (FOTO: 123RF)

Tencent menyiapkan dana hingga US$ 470 juta terkait langkah akuisisi pada salah satu divisi di bawah perusahaan teknologi Xiaomi, Black Shark. Unit usaha ini sebelumnya dikenal karena membuat gawai seperti ponsel pintar (smartphone) dengan spesifikasi khusus untuk gaming, begitu juga dengan asesori seperti alat kendali bagi permainan atau controller.

Rencana strategis Tencent mewujudkan akuisisi Black Shark memberikan mereka peluang menggarap sektor bisnis di ranah metaverse. Seperti dilansir dari laman Bloomberg, Tencent akan menggunakan fasilitas maupun sumber daya manusia melalui Black Shark untuk mengembangkan perangkat simulasi virtual berupa headset yang dipasarkan secara luas. 

Langkah usaha merancang perangkat simulasi virtual bagi pengguna berupa headset juga dilakukan oleh perusahaan induk Facebook, Meta, usai membeli kepemilikan perusahaan teknologi Oculus pada tahun 2014. Tencent dan Black Shark sebelumnya sudah pernah menjalin kolaborasi ketika mengeluarkan produk berupa smartphone gaming, sehingga langkah akuisisi ini diramal tidak akan menemui banyak kendala.

Ketertarikan perusahaan asal China tersebut pada ranah metaverse sebelumnya telah terungkap melalui pernyataan jajaran pimpinannya. Termasuk, adanya potensi membangun bisnis membuat perangkat simulasi virtual dengan diawali akuisisi Tencent pada Black Shark, untuk dapat menarik pengguna baru. 

“Segala sesuatu yang membuat dunia virtual semakin nyata, maupun sebaliknya bentuk memperkaya dunia nyata dengan pengalaman virtual bisa menjadi bagian dari metaverse,” kata CEO Tencent Pony Ma yang disampaikan pada November 2021 lalu, seperti dilansir dari laman Tech Crunch.

Upaya membangun bisnis berupa perangkat simulasi virtual termasuk melakukan akuisisi pada Black Shark sejatinya bukan rute utama bagi Tencent, dalam menjajaki peluang di ranah metaverse. Mereka telah terlebih dahulu membangun nama besar melalui teknologi video gim, yang sampai saat ini memberi kontribusi terbesar dalam hal pemasukan dari perusahaan portofolionya seperti Epic Games, Roblox, hingga platform seperti Discord.

Bentuk permainan dengan mengedepankan interaksi antarpemain, variasi bentuk dalam satu IP, ataupun infrastruktur yang memungkinkan pengguna membangun gim sendiri dari sejumlah pengembang di bawah payung Tencent, sudah menghadirkan pengalaman metaverse bagi banyak orang. Dukungan berupa penggunaan teknologi seperti augmented reality (AR) dan virtual reality (VR), seperti pada perangkat headset yang dibuat Tencent nantinya bisa berperan sebagai ekstensifikasi pengalaman bagi pengguna.

Tencent merasa percaya diri dengan kemampuan mereka melakukan pengembangan di ranah metaverse berbasis piranti lunak maupun keras, terlebih untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan setiap pengguna nantinya. Namun, sampai saat ini belum ada keterangan resmi dari Tencent tentang target serta gambaran lini waktu terkait pengembangan yang akan mereka lakukan di masa mendatang.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

The Latest

To Top