Opinion

Brand Mulai Pede untuk Belanja Iklan Lagi

Memasuki kuartal ketiga 2020, total belanja iklan menunjukkan tren yang positif, setelah mengalami posisi tertekan di kuartal kedua. Total belanja iklan Januari – Juli 2020 berdasarkan laporan Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel) mencapai angka Rp 122 triliun. Hal ini menunjukan para pemilik brand kembali percaya diri untuk beriklan,

Televisi masih mendominasi 72% porsi belanja iklan dengan angka lebih dari Rp 88 triliun. Disusul belanja iklan digital 20% dengan total belanja iklan Rp 24, 2 triliun. Sementara itu total belanja iklan media cetak mencapai lebih dari Rp 9,6 triliun dan total belanja iklan radio mencapai Rp 604 miliar.

Dari sisi kategori produk yang beriklan di TV dan Digital di bulan Juli 2020, kategori Layanan Online masih menjadi penyumbang iklan terbesar, dengan total belanja iklan Rp 2,5 triliun (meningkat 73% vs Juli 2019). Disusul oleh kategori perawatan wajah dengan total belanja iklan Rp 1,4 triliun, meningkat dua kali lipat dan selanjutnya adalah kategori perawatan rambut dengan total belanja iklan Rp 1,1 triliun (meningkat 51%).

Sedangkan di Media cetak dan Radio, dapat terlihat kategori-kategori produk berbeda yang beriklan dibandingkan dengan TV. Untuk Media Cetak, masih tetap menjadi pilihan tempat beriklan untuk kategori alat kesehatan dan finansial atau asuransi. Sementara Radio memiliki variasi kategori pengiklan yang lebih beragam, mulai dari kategori makanan, minuman hingga kategori obat batuk.

Kondisi Pandemi pada saat ini memaksa para pemilik brand  untuk beradaptasi dan menyesuaikan gaya komunikasi yang ada di dalam iklan. Cara yang dilakukan sangat beragam, ada yang menggunakan animasi sebagai bentuk iklannya, mengusung sisi edukasi (tentang hidup sehat dan bersih) ataupun menunjukkan kontribusi brand kepada masyarakat dengan berdonasi (uang ataupun alat-alat kesehatan).

Menurut Hellen Katherina, Executive Director Nielsen Media Indonesia, beradaptasi dengan situasi pandemi dan masa transisi membuat iklan dalam bentuk animasi menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi keterbatasan dari segi budget dan ruang syuting iklan dengan tetap mengedepankan isu kesehatan dalam pesan yang disampaikan.

“Di samping itu beberapa merek lebih memilih untuk beriklan terintegrasi dalam program untuk mendapatkan jangkauan konsumen yang lebih besar mengingat rating program biasanya lebih tinggi daripada rating di commercial break,” ujarnya.

Baginya tipe iklan yang terintegrasi dalam program terkesan lebih kreatif dan lebih tidak “disadari” oleh konsumen. “Brand memilih karena biasanya rating programnya tinggi, jumlah audiens program tersebut juga lebih banyak. Kalau commercial break itu banyak audiens yang mengganti channel. Di sisi lain karena terintegrasi jadi penerimaannya terkesan lebih rileks buat audiens,” tutup Hellen.

MARKETEERS X








To Top