Cara EIGER Dobrak Stigma Produk Kegiatan Outdoor

marketeers article
Sumber: 123RF

EIGER, merek produk outdoor experience berupaya untuk mendobrak mitos dan stigma seputar perempuan yang memiliki keterbatasan menggunakan apa pun yang mereka sukai, terutama yang hanya digunakan oleh pria. Banyak mitos dan stigma yang menganggap EIGER, sebagai merek untuk perlengkapan kegiatan luar ruang, hanya untuk pria saja. 

Sebab, produk-produk yang dihadirkan adalah seputar perlengkapan untuk mendaki gunung dan kegiatan luar ruang lainnya. EIGER memiliki tiga subbrand, yaitu mountaineering, riding, dan 1989 yang semuanya ada kategori women series

Bahkan, produk tersebut sudah ada sejak lama, walaupun baru dimaksimalkan pada tahun 2022. 

BACA JUGA: Pupuk Indonesia Siapkan Tiga Strategi Kembangkan Amonia

“Saat ini, sekitar 40% pembelian dari konsumen perempuan. Angka ini cukup banyak, mengingat mitos dan stigma yang beredar tersebut,” kata Nataya Salsha, Eiger Adventure Women Series Project Leader.

Merek ini juga melihat stigma bahwa anak motor dan penyuka kegiatan luar ruang hanyalah pria. Oleh sebab itu, EIGER berupaya untuk mendobrak stigma tersebut dengan mengeluarkan produk yang lebih masif lagi untuk women series. 

Merek ini mengedepankan prinsip inklusivitas dengan menekankan bahwa perempuan juga bisa melakukan aktivitas luar ruang, seperti mendaki gunung atau mengendarai motor, terutama motor besar yang dipersepsikan hanya untuk laki-laki saja.

BACA JUGA: 5 Rekomendasi Mukena Traveling untuk Persiapan Mudik Lebaran 2023

“Konsep inklusivitas yang kami usung ini untuk mendobrak bahwa semua perempuan bisa menjadi penghobi motor, mendaki gunung, dan melakukan aktivitas luar ruang lainnya yang mereka inginkan. Sesuai dengan visi kami, yaitu empower women to believe that she can. Mereka bisa diajak dan melakukan hal-hal tersebut,” kata Nataya.

Untuk mendobrak mitos dan stigma tersebut, EIGER turut menghadirkan ambassador perempuan inspiratif yang jumlahnya cukup banyak.  Selain itu, merek ini juga sering kali menghadirkan aktivasi yang menghadirkan ambassador ataupun narasumber perempuan yang akan berbagi cerita.

“Banyak sekali aktivasi yang kami hadirkan untuk aktualisasi diri. Kami undang orang-orang hebat, termasuk ambassador kami yang akan berbagi cerita, salah satunya saat perempuan merasa impian mereka terhambat di tengah jalan. Kami juga memiliki sarana, komunitas, dan pertemanan antarperempuan,” ujarnya.

Tidak hanya itu saja, untuk mendobrak mitos sebagai merek pria yang sudah melekat pada EIGER, merek ini juga memiliki strategi khusus untuk menggarap pasar perempuan. Apabila produk untuk laki-laki ditonjolkan sisi tough atau strong, perempuan tentu berbeda. 

Merek ini ingin menunjukkan bahwa produk pakaian EIGER untuk women series saat dipakai tidak terlihat seperti produk cowok. Misalnya, kemeja dengan desain pinggang lebih ramping.

“Kami tetap mengikuti ciri khas EIGER, yaitu outdoor experience dengan menghadirkan produk yang diperuntukkan untuk kegiatan luar ruang tersebut. Namun begitu, produk women series kami tetap memiliki sisi cantiknya. Ada ciri khusus, selain ukuran, pemilihan warna yang memang bertujuan untuk menunjukkan bahwa ini produk khusus untuk perempuan. Walaupun begitu, kami juga ada beberapa produk yang unisex,” ucap Nataya.

Di sisi lain, banyak juga mitos yang beredar bahwa perempuan menyukai warna merah muda. Namun, EIGER beranggapan warna bukanlah patokan saat menghadirkan produk untuk women series. 

Memang, merek ini juga memiliki produk yang berwarna merah muda, namun hanya sebagai pilihan warna saja. 

“EIGER merupakan produk untuk kegiatan luar ruang. Jadi, tidak melulu tentang warna. Oleh sebab itu, pendekatan ke pelanggan perempuan yang dilakukan kami lakukan tidak difokuskan pada warna, namun pada bentuk dari produk tersebut, kenyamanannya, dan manfaatnya. Warna sekadar melengkapi saja,” tuturnya.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS