Automotive

CEO Rolls-Royce: Pandemi Bikin Konsumen Beli Mobil Mewah

Konsumen mobil mewah Rolls-Royce Ghost
Model sedan Rolls-Royce Ghost tampil dalam sebuah pameran di Bangkok, Thailand (FOTO:123RF)

Rolls-Royce mendapat dampak positif di tengah pandemi COVID-19. Saat ini, konsumen justru membeli mobil mewah buatannya. Kebanyakan pembeli kendaraan premium tersebut terdorong keinginan untuk menikmati hidup secara maksimal, terlebih setelah mendapati orang terdekat maupun kerabat mereka terpapar virus serta jatuh sakit.

“Banyak dari konsumen mobil mewah Rolls-Royce menyaksikan langsung anggota keluarga maupun orang di lingkungannya jatuh sakit hingga meninggal dunia akibat pandemi ini. Hal tersebut mendorong mereka untuk tidak menunda waktu menikmati hidup dan hal tersebut membantu Rolls-Royce,” kata Torsten Muller-Otvos, CEO Rolls-Royce, seperti dilansir dari laman The Guardian.

Angka penjualan seluruh lini kendaraan buatan Rolls-Royce sendiri mencapai 5.586 unit pada tahun 2021 lalu,. Sebuah rekor tersendiri bagi pabrikan tersebut. Penyerapan mobil mewah oleh konsumen selama kurun waktu pandemi itu, terdorong minat besar pada sejumlah model seperti sedan ikonik Rolls-Royce Ghost, Phantom, hingga sport utility vehicle (SUV) Cullinan.

Muller-Otvos menyebut catatan itu terbilang mengejutkan karena tidak ada produsen mobil mewah lain yang menjual kendaraan senilai lebih dari € 250 ribu seperti Rolls-Royce. Berdasarkan keterangan yang ia sampaikan kepada The Guardian, Phantom menjadi model kendaraan buatan Rolls-Royce paling laris sepanjang tahun 2021 disusul oleh Cullinan.

Catatan positif dari angka penjualan kendaraan keluaran Rolls-Royce itu seakan menepis kendala umum pabrikan mobil selama pandemi yakni kelangkaan chip semikonduktor. Perangkat tersebut umumnya dipakai pada berbagai jenis mobil sebagai bagian dari sistem elektronik dan pengendali performa kendaraan, begitu juga pada produk buatan Rolls-Royce.

Produsen kendaraan mewah seperti Rolls-Royce bahkan mempunyai masalah dengan regulasi baik berupa pembatasan sosial hingga aturan yang diterapkan Inggris. Bagi mereka sejumlah aturan yang ada memberi beban tersendiri, khususnya saat harus mengirimkan mobil mereka yang dirakit di Inggris menuju negara lain di penjuru dunia. “Terlebih, dengan adanya Brexit yang tidak membuat hidup kami lebih mudah,” ujar Muller-Otvos menambahkan.

Ia menerangkan ada dua wilayah pasar konsumen mobil mewah dengan angka penjualan terbesar bagi Rolls-Royce selama tahun 2021. Dua wilayah itu  Amerika Utara dan China dengan persentase masing-masing sekitar 30%.

Antusiasme konsumen mobil mewah di penjuru dunia yang tidak terbendung situasi pandemi mendorong Rolls-Royce berinisiatif dengan layanan terbaru. Nantinya, para pelanggan atau calon pembeli mobil mereka dapat merancang kendaraan sesuai keinginan dalam jangka waktu empat tahun, sebuah pengalaman yang sejatinya tidak biasa diperoleh hanya dengan uang menurut Rolls-Royce.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

The Latest

To Top