Chairman Alphabet: Google Masih Ragu Rilis Bard untuk Saingi ChatGPT

marketeers article
Ilustrasi. (FOTO: 123rf)

Google mengumumkan chatbot bernama Bard pekan lalu yang bakal menyaingi ChatGPT dari OpenAI. Hal tersebut menunjukkan perusahaan yang menginduk ke Alphabet ini memiliki teknologi serupa meski ada beberapa tahapan yang harus dilalui sebelum siap dirilis ke publik.

“Saya pikir Google ragu-ragu untuk memproduksi ini karena merasa belum benar-benar siap untuk sebuah produk, tetapi menurut saya sebagai alat percontohan, ini adalah teknologi yang hebat,” kata John Hennessy, Chairman Alphabet dikutip dari CNBC, Selasa (14/2/2023).

Dia menilai kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) masih satu atau dua tahun lagi untuk menjadi alat yang benar-benar berguna bagi masyarakat luas. Selain memiliki sejarah panjang di bidang teknologi, termasuk sebagai profesor, peniliti, dan pendiri perusahaan, Hennessy juga menjabat sebagai Presiden Universitas Stanford dari tahun 2000 hingga 2016.

BACA JUGA: Tantang OpenAI, Baidu Siapkan Chatbot Lawan ChatGPT

Hennessy menilai Google terjebak dalam tren minat yang tinggi terhadap AI setelah viralnya ChatGPT. Pekan lalu, untuk menjawab kompetisi dengan ChatGPT, Google meluncurkan chatbot Bard.

Namun, pengumuman tersebut terkesan terburu-buru untuk menandingi inklusivitas teknologi ChatGPT dari Microsoft ke dalam mesin pencarinya, Bing. Alhasil, investor pun merespons negatif yang membuat saham Alphabet merosot 9% sejak pengumuman.

Hennessy menambahkan Google lambat dalam meluncurkan pesaing ChatGPT karena masih berkutat dalam respons yang keliru dalam berbagai hal. Google adalah salah satu produk konsumen yang paling banyak digunakan, dan platform YouTube serta Search terkadang memberikan informasi yang tidak akurat pada masa lalu. Masa lalu itu tampaknya menginspirasi kehati-hatian perusahaan.

BACA JUGA: Microsoft Umumkan Investasi Baru Miliaran Dolar AS ke ChatGPT

“Anda tidak ingin mengeluarkan sistem yang mengatakan hal-hal yang salah atau terkadang mengatakan hal-hal yang toxic,” ucap Hennessy.

Dia pun menggarisbawahi pernyataan Sundar Pichai, CEO Alphabet yang akhir tahun lalu menyoroti ketertinggalan perusahaan dengan adanya ChatGPT. Namun, Pichai menilai industri teknologi harus berhati-hati dengan penciptaan sistem yang akan dikonsumsi masyarakat.

“Saya pikir model-model ini masih dalam tahap awal. Mencari tahu bagaimana cara membawanya ke dalam aliran produk dan melakukan dengan cara yang peka terhadap kebenaran, serta isu-isu seperti toksisitas. Saya pikir industri ini sedang berjuang dengan hal itu,” tutur Hennessy.

Bagaimanapun, Hennessy terkesan dengan kemampuan ChatGPT dan menilai teknologinya bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan. Dia menilai kemampuan bahasa ChatGPT yang bisa menafsirkan pertanyaan seseorang sudah amat baik.

“Saya terkesan dengan dua hal. Pertama, kualitas kemampuan bahasa alami untuk menafsirkan pertanyaan juga menanggapi sesuatu. Kedua, saya terkesan karena itu berhasil, melakukan banyak hal dengan benar,” kata Hennessy.

Hennessy menolak untuk berkomentar secara spesifik mengenai reaksi publik terhadap pengumuman Bard dari Google pekan lalu. Dia mengatakan ini adalah saat yang tepat bagi startup di Silicon Valley untuk memperoleh keuntungan dengan merekrut talenta dari perusahaan teknologi besar selama siklus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) belakangan.

Startup memiliki peran penting di Valley. Salah satu hal hebat tentang Valley adalah Anda tidak bisa berpuas diri karena beberapa startup baru akan datang dan benar-benar memberi Anda kesempatan untuk bersaing,” ujarnya.

Related

award
SPSAwArDS