Uncategorized

COVID-19 Ingatkan Urgensi Pariwisata Berkelanjutan

Sumber: 123rf

Industri pariwisata menjadi salah satu industri yang paling terdampak oleh pandemi COVID-19. Kebijakan pembatasan sosial (social distancing) maupun bekerja dari rumah (work from home) membuat arus wisatawan ikut berhenti.

Industri yang terpuruk akibat pandemi sebaiknya melakukan strategi bertahan (surviving). Namun, strategi bertahan tidaklah cukup. Para pemain di industri turisme harus tetap kreatif dan produktif memasarkan pariwisata sembari menyiapkan strategi untuk masa setelah pandemi berakhir.  

Hal ini disampaikan oleh Hermawan Kartajaya, Founder dan Chairman MarkPlus Tourism dalam Webinar Industry Roundtable bertajuk Surviving The COVID-19 Preparing The Post dalam perspektif industri pariwisata dan keramahtamahan.

“Indonesia merupakan pasar yang besar dan unik, terutama dalam pariwisatanya. Sebab itu, kita harus berupaya agar kita tidak hanya menjadi pasar saja, melainkan juga ikut menjadi pemain. Sebab itu, bertahan saja tidak cukup. Perlu cara-cara kreatif selama masa sulit ini untuk tetap mengelola pariwisata Indonesia. Kita tetap perlu bertahan, menjaga cash flow, namun tetap menjaga daya tarik wisata,” ujar Hermawan.

Hermawan mengatakan COVID-19 akan memberi dampak kebaruan di industri pariwisata seperti halnya industri-industri lain. Ia menawarkan tiga strategi di masa krisis yang dikenal dengan SPA, yakni Surviving, Preparing, dan Actualizing.

“Masa krisis ini saya sebut dengan New Normal. Di masa ini, kita sudah terbiasa dengan normalitas baru, seperti beraktivitas secara daring maupun bekerja dari rumah. Setelah ini, ada masa Next Normal yang ditandai dengan dibukanya pembatasan sosial, namun tetap jaga jarak dan memakai masker. Baru setelah pandemi benar-benar selesai, kita akan memasuki Post Normal yang semua tampak baru. It will never be the same again,” katanya.

Pandemi ini, sambung Hermawan, telah menyadarkan banyak pihak bahwa industri pariwisata itu ternyata menjadi backbone atau tulang punggung untuk ekonomi sebuah negara. “Mungkin saat ini, perekonomian melambat, namun nanti begitu pariwisata dibuka kembali, ekonomi akan menggeliat lagi,” katanya.

Hermawan menambahkan, COVID-19 ini mengingatkan para pemangku kepentingan pariwisata untuk berpaling pada sustainability tourism. Turisme berkelanjutan ini mengandaikan ada keseimbangan antara nature-culture, people, social-economy, dan god. Elemen-elemen tersebut harus dijaga sekaligus dikembangkan agar pariwisata bisa berkelanjutan di masa mendatang.

“Kita bisa belajar dari masyarakat Bali yang menganut Tri Hita Karana yang mana ada keseimbangan antara alam, manusia, dan pencipta. Mereka inklusif sekaligus memegang nilai-nilai spiritual. Pariwisata berkelanjutan ini menjadi tourism destination compass,” pungkas Hermawan.

MARKETEERS X








To Top