Industry

Dilema dan Tantangan Divisi HR di Masa Transisi

Beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta dan Bandung sedang bersiap untuk menyambut new normal. Dengan new normal, masyarakat bisa kembali menjalankan aktivitas seperti sedia kala. Bisnis, perkantoran, hingga fasilitas publik akan kembali beroperasi dengan beberapa penyesuaian sesuai dengan anjuran dari pemerintah.

Di sisi lain, ada risiko yang perlu diantisipasi oleh pemerintah maupun pemilik bisnis di masa new normal ini. Risiko dari pemberlakuan new normal ini tidak hanya dari sisi ekonomi dan bisnis saja, keamanan serta kesehatan para pekerja menjadi hal utama yang menjadi pertimbangan pemilik bisnis.

Anthony Kosasih, Chief Operating Officer Mekari, menjelaskan bahwa dengan new normal, perusahaan perlu mempersiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) baru. “Bagi pemilik usaha, kembalinya operasional bisnis diharapkan akan memutar perekonomian. Tetapi, karyawan sebagai salah satu aspek utama berlangsungnya operasional perlu diperhatikan.”

Ia menjelaskan di Mekari memastikan penerapan protokol kesehatan secara letat, mulai dari mengatur jam kerja karyawan dan membuat prosedur kerja baru hingga melakukan desain ulang ruang kerja.

Di sisi lain, ketidakpastian kondisi COVID – 19 saat ini perlu diperhatikan dan diantisipasi oleh HR. Menurutnya kondisi ini menjadi tantangan bagi sendiri bagi HR untuk membuka diri di era new normal dan mempersiapkan skenario terburuk.

“Kondisi saat ini tidak bisa diprediksi, sekarang kita memasuki masa transisi tapi jika keadaan memburuk, kebijakan kerja dari rumah akan kembali dilakukan. Bagaimana HR mengatasi perubahan ini dan mengelola karyawan dengan baik jika dalam prosesnya masih mengandalkan sistem manual? Pasti akan sulit sekali bagi HR.” ujar Anthony.

Anthony Kosasih, COO Mekari

Sebagai contoh, perusahaan digital wallet DANA, memetakan new normal ini ke dalam 3 aspek, yaitu People, Process dan Technology. “Tim People Dana Untuk mendukung pengelolaan karyawan dan proses bisnis di masa ini, dibutuhkan teknologi yang tepat untuk membangun culture perusahaan dan bisa membantu perusahaan untuk mendigitalisasikan proses bisnis guna meminimalisir kontak langsung,” terang Agustina Samara, Chief People Officer DANA.

HR memegang peranan penting untuk memastikan pengelolaan karyawan yang tepat guna memastikan produktivitas bisnis terjaga. Dengan ketidakpastian kondisi saat ini, dimana karyawan ada yang bekerja dari rumah dan kantor secara bergantian, besar kemungkinan human error bagi HR untuk melakukan pengelolaan shift kerja karyawan maupun penarikan data absensi yang bisa berdampak pada tidak akuratnya payroll yang didapatkan.

Bagi Agustin banyak tantangan yang dihadapi oleh HR seperti pengaturan shifting karyawan, mental health, employee engagement, membangun Virtual Digital Leadership Skill, business continuity, trust & transparency, dan lainnya. Penting bagi HR untuk menjalankan fungsi resilience dan agile dengan situasi ini.

“Mulai dari kolaborasi dengan leaders, membuat ide kreatif yang out of the box, leaders mentoring, juga penyesuaian Code of Conduct serta employee benefit karena penting bagi perusahaan untuk mampu beradaptasi dengan kondisi saat ini serta perubahannya.”ungkap Agustin.

Meskipun memasuki masa transisi pemilik bisnis ataupun HR harus tetap aware dengan update kondisi COVID – 19, juga merancang business continuity plan dengan mempertimbangkan segala risiko yang dapat terjadi kedepannya.

Bagi Anthony jika kembali bekerja dari rumah, butuh waktu lagi bagi karyawan untuk adaptasi yang berdampak pada koordinasi tim serta produktivitas yang mungkin akan kembali turun. Selain itu, proses HR dan pengelolaan karyawan yang masih manual tidak efisien dengan kondisi ini karena riskan terjadi kesalahan atau hasil data tidak akurat untuk membuat keputusan strategis perusahaan di masa krisis.

“Hal ini bisa berdampak besar pada produktivitas bisnis.” pungkas Anthony.

MARKETEERS X








To Top