Dolby Atmos Suguhkan Pengalaman Nonton Bioskop Tak Biasa

marketeers article
Bioskop Starium

Burung-burung berkicau ke sana kemari bak baru keluar dari sangkarnya. Suara deru mesin mendekat seolah menyelisik permukaan kulit. Begitu pun dengan suara baling helikopter yang seakan melayang di atas kepala.

Begitulah kurang lebih gambaran menonton film di studio Starium, studio dengan layar terbesar berukuran 22,3 meter x 12,5 meter. Auditorium ini dikembangkan oleh CGV Cinemas, pemain bioskop asal Korea Selatan yang menjadi pemegang saham terbesar di jaringan bioskop lokal blitz.

Starium memiliki 500 kursi dan menjadikannya sebagai auditorium bioskop terbesar di Indonesia sampai saat ini, mengalahkan IMAX. Bioskop ini baru diboyong CGV Cinemas di flagship store-nya di Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta.

Tak hanya itu, pengalaman menonton semakin bertambah berkat teknologi Dolby Atmos, di mana Starium memasang 70 audio speaker yang seolah mengajak indera penonton berada di alur cerita film.

Speaker itu dihubungkan dengan atmos enabled amplifier yang memiliki kemampuan untuk menginterpretasikan 128 jenis dan informasi suara secara individu. Alhasil, efek suara yang diterima penonton di dalam ruang bioskop akan lebih realistis dibandingkan dengan sound 3D pada umumnya (surround).

Teknologi Dolby Atmos sendiri diperkenalkan pertama kali di Amerika Serikat pada tahun 2012 yang mana film Brave menjadi film perdana yang menggunakan teknologi tersebut.

Memang, konsumen selama ini kadang tak begitu memperhatikan merek audio yang digunakan oleh penyedia bioskop. Akan tetapi, pemain bioskop mulai menjadikan audio sebagai diferensiasi yang menambah added-value mereknya di banding kompetitor.

Kita tentu masih ingat dengan Cinema XXI yang menawarkan sinema khusus IMAX sejak tahun 2012. Selain memiliki kualitas gambar yang lebih jernih, IMAX juga menggunakan digital aligned sound yang dinilai mampu menghasilkan suara yang lebih menggelegar di dalam bisokop.

Baik IMAX maupun Dolby Atmos, kedua perusahaan ini sama-sama menjadi mitra staregis bagi dua pemain utama bioskop Tanah Air; Cinema XXI dan CGV.

Ashim Mathur, Senior Marketing Director Emerging Markets Dolby Labolatories, Inc. mengatakan, 86% dari konsumen global mengaku mengenal Dolby sebagai merek audio.

Saat ini, teknologi Dolby sudah tersemat di 650 bioskop dan 2.700 layar yang tersebar di 75 negara. “Kami juga mengembangkan teknologi ini tidak hanya di dalam bioskop, namun juga pada home theater, blue ray, hingga ponsel dan smartphone,” kata Ashim di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pentingnya pengalaman

Perkembangan bisnis bioskop tergolong lamban apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia. Selama ini, Indonesia baru memiliki 1.200an jumlah layar bioskop. Jumlah layar itu hanya setara dengan jumlah layar di Kota Beijing, China. Idealnya, negeri ini mesti memiliki 9.000 hingga 15.000 layar.

Rasio layar berbanding 100.000 populasi Indonesia pun hanya sebesar 0,4. Rasio ini jauh di bawah Amerika Serikat dengan rasio 14; Inggris 6,8; Korea Selatan 4,3; dan China 1,8. Sedangkan di beberapa negara tetangga, rasionya juga lebih besar, seperti Singapura 3,9; Malaysia 2,4; dan Thailand 1,2.

Dengan layar yang masih minim, pemerintah akhirnya membuka keran investasi sektor perfilman untuk investor asing. Harapannya, pemain bisokop lokal termasuk pihak asing berani membuka lebih banyak jumlah layar. Pemerintah menargetkan pada tahun 2019, jumlah layar bioskop dapat menembus angka 4.000.

Ketimpangan tidak hanya pada sisi jumlah layar, melainkan juga persebarannya. Dari jumlah layar bioskop saat ini, 87%-nya berada di Pulau Jawa. Ibukota sendiri menguasai 35% layar bioskop di nusantara.

Tak heran, persaingan bioskop di Jakarta semakin sengit, yang membuat para pemainnya menawarkan pengalaman hiburan lain ketimbang sekadar studio menonton. Hal ini yang coba dilakukan oleh CGV Cinemas dengan menawarkan konsep Cultureplex.

“Kami ingin orang-orang yang datang ke bioskop, tidak hanya datang untuk menonton film, tetapi juga menikmati waktu mereka berada di bioskop,” kata Jeff Lim, CEO CGV Cinemas kepada Marketeers

Jeff bilang, Cultureplex memungkinkan orang dapat bertemu dengan teman-teman mereka, menyeruput kopi, mencicipi makanan, berbelanja hingga menikmati pertunjukan live di bioskop.

“Kami berencana untuk memasyarakatkan konsep ini di lokasi kami di seluruh Indonesia. Sehingga orang akan senang untuk menghabiskan waktu mereka di tempat kami,” tutur Jeff.

Berbagai teknologi terbaru serta pengalaman beyond movies itu diharapkan dapa meningkatkan loyalitas konsumen saat memilih bioskop. Sebab, selama ini, alasan orang pergi ke bioskop biasanya didasarkan pada lokasi terdekat, daftar film yang sedang diputar, dan faktor harga.

Dengan memberikan segenap pegalaman tersebut, pemain bioskop seperti CGV dapat meningkatkan revenue stream di luar admission atau jumlah tiket. Perlu diketahui, sepanjang tahun lalu, CGV berhasil menjual sepuluh juta tiket.

(Baca Juga: CGV Target Operasikan 40 Bioskop Tahun 2017)

Per Desember 2016, perusahaan ini telah memiliki 27 bioskop dengan 185 layar di Indonesia. Tahun ini, CGV akan menambah 13 bioskop baru dengan 270 layar.

Editor: Sigit Kurniawan

Related

award
SPSAwArDS