Industry

Dorong Hilirisasi Industri, Ekspor Logam Dasar Ditargetkan Tembus US$ 21 Miliar

Sumber gambar: 123rf.com

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menargetkan ekspor logam dasar mencapai US$ 21 miliar atau setara Rp 300,39 triliun (kurs Rp 14.304 per US$) hingga akhir tahun 2021. Upaya ini diacapai dengan pengembangan industri hilir, sehingga barang-barang yang dieskpor bukanlah setengah jadi atau bahan baku.

Luhut mengatakan, cara seperti itu juga dapat memperbaiki kinerja perdagangan internasional Indonesia yang selama ini kerap defisit. Selain itu, diharapkan bisa menjadi kontributor yang signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB) dan pemulihan ekonomi.

“Didukung dengan hilirisasi pada logam dasar perlahan menjadi sektor dengan Purchasing Managers Index (PMI) tertinggi sejak 2018. Sejak hilirisasi, ekspor kita untuk aero steel berkisar US$ 21 miliar dan itu berdampak kepada current account defisit kita dan surplus pada ekonomi,” kata Luhut dalam Rapat Koordinasi Nasional dan Anugrah Layanan Investasi 2021 secara virtual, Rabu (24/11/2021).

Luhut optimistis angka tersebut dapat tercapai pada Desember 2021. Sebab, hingga bulan September 2021, angka ekspor telah menembus US$ 16,6 miliar. Sedangkan dari sisi permintaan masih akan terus meningkat.

“Jadi, pandemi COVID-19 dengan hilirisasi itu menjadi sangat meningkat. Hilirisasi sumber daya alam (SDA) akan mengurangi defisit neraca berjalan Indonesia. Jadi, kalau kita lihat angka Rp 16,6 miliar pada bulan September dan bisa menembus US$ 21 miliar hingga akhir tahun,” ujarnya.

Dia menambahkan, selain komoditas logam dasar, pemerintah juga akan melakukan hilirisasi pada produk nikel. Caranya dengan mengolah nikel menjadi baterai untuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Ditagetkan, melalui program ini akan mampu membawa Indonesia menjadi produsen kendaraan EV kelas dunia.

Di sisi lain, mantan Komandan Jenderal Kopassus itu menyebut negara dengan pangsa ekspor terbesar, yakni China. Besarnya ekspor ke Negeri Tirai Bambu ditengarai lantaran industrinya yang tetap bergeliat meskipun terpukul pandemi COVID-19.

“Kemudian, neraca perdagangan Indonesia ke China terus mengalami kenaikan, jadi sekarang kita membuat kerja sama. Kebanyakan orang salah mengerti, kerja sama kita banyak terjadi antara Indonesia dengan China dan Abu Dhabi. Sedangkan untuk Abu Dhabi investasi ke kita  mencapai US$ 44,7 miliar. Itu bukan angka yang kecil,” pungkasnya.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

MARKETEERS X








To Top