Ekspansi Pembiayaan Fintech Diperkirakan Meluas pada Tahun 2022

profile photo reporter Tri Kurnia Yunianto
TriKurnia Yunianto
13 Desember 2021
marketeers article
Fintech Investment Financial Internet Technology Concept
Setelah dipukul pandemi COVID-19 selama dua tahun, kondisi perekonomian Indonesia diperkirakan terus membaik pada tahun 2022 . Hal ini akan berdampak positif terhadap pertumbuhan industri keuangan berbasis teknologi atau financial technology (fintech).
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengungkapkan, meskipun pandemi masih berlangsung, pemulihan ekonomi tetap berjalan. Apalagi, diperkirakan konsumsi masyarakat kelas menengah ke bawah  semakin menguat.
“Keyakinan membeli konsumen kini sudah meningkat, mulai dari  kelompok dengan pengeluaran Rp 2 juta hingga Rp 5 juta per bulan. Sebagian masyarakat sudah siap untuk mulai spending kembali. Kalaupun masih ada pembatasan sosial karena PPKM, mereka juga sudah siap menggeser sebagian spending habit dengan pembelian barang secara online. Sehingga,  tidak hanya  membantu  fintech peer-to-peer (p2p) lending saja, tapi jenis fintech lain seperti paylater dan pinjaman lainnya juga akan mengalami peningkatan penggunaan,” ujar Bhima melalui keterangannya, Senin (13/12/2021).
Menurutnya, perkiraan tren fintech pada tahun 2022, ekspansi pembiayaan merchant di e-commerce akan semakin masif. Fintech akan melakukan bekerja sama dengan platform e-commerce dan menyediakan pembiayaan bagi para merchant.
Selain itu, fintech akan ekspansi pembiayaan ke microfinance seperti warung dan juga personal finance. Tak hanya penyaluran pinjaman, Bhima memperkirakan ke depannya fintech juga akan menawarkan digital investment platform seperti insurtech, reksadana hingga pembelian surat hutang dalam satu platform yang sama.
“Kemudian ke depan akan marak merger dan akuisisi sesama fintech. Bahkan, fintech menjadi bagian lembaga keuangan yang bersifat tradisional,” ujarnya.
Sementara itu, Chief Operating Officer (COO) dan Co-founder Qoala Tommy Martin mengungkapkan, pihaknya membaca peluang tersebut dengan menghadirkan solusi asuransi pembiayaan bermanfaat bagi perusahaan P2P lending dan juga perusahaan penyedia asuransi. Hal ini menjadi kesempatan bagi Qoala untuk turut berkolaborasi dengan platform digital fintech lainya dalam menghadirkan produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Kendati demikian, tantangan saat ini adalah meningkatkan pemahaman masyarakat terkait asuransi dan juga memperkenalkan jenis dan produk asuransi yang dibutuhkan. Untuk mengatasi hal tersebut, kata Tommy, saat ini Qoala bekerja sama dengan berbagai perusahaan digital untuk memasyarakatan produk asuransi.
“Kami melihat potensi untuk memberikan solusi asuransi kepada ekosistem fintech akan semakin tinggi, baik dari sisi UKM, perusahaan atau individu, semuanya pasti memerlukan asuransi. Potensi ini yang dapat Qoala gali untuk memberikan layanan produk asuransi dan bekerjasama dengan para pemain fintech,” ujarnya.
 
Editor: Eko Adiwaluyo

Related