Lifestyle & Entertainment

Emily in Paris dan Segudang Inspirasi Pemasaran Masa Kini

Sumber: Cuplikan Film

Seri Emily in Paris menjadi salah satu seri di Netflix yang sedang digandrungi. Berkisah tentang Emily Cooper, perempuan muda asal Chicago, Amerika Serikat yang meniti karier di perusahaan pemasaran di Paris, Prancis. Emily didaulat bekerja di Paris untuk menggantikan atasannya yang sedang cuti hamil. Diperankan oleh Lily Collins, sosok Emily dikenal sebagai gadis muda yang gesit, periang, sekaligus pekerja keras.

Saat sudah bekerja di kantor barunya, Emily mengalami culture shock. Emily yang tidak bisa bahasa Prancis harus berkomunikasi dengan teman-teman sekantornya yang lebih bangga berkomunikasi dengan bahasa Prancis. Hal ini membuat komunikasi Emily dengan timnya terhambat. Hal itu membuat Emily tidak disukai atasannya dan tidak memiliki teman di kantor.

Emily in Paris tak sekadar tontonan yang menghibur. Serial ini juga sarat dengan insight-insight pemasaran kekinian. Misalnya soal benturan budaya yang mengingatkan para pemasar agar menguasai socio-culture dari segmen yang akan dilayani.  Apalagi, kalau mereka berada di negara lain dengan kultur, kebiasaan, dan gaya hidup berbeda. Kalau tidak, mereka mungkin akan mengalami apa yang terjadi pada Emily.

Di dalam film besutan sutradara Darren Star ini, juga terdapat sebuah cuplikan yang menarik ketika terjadi benturan antara budaya Amerika Serikat dan Prancis. Ketika Emily mendapatkan hadiah berupa pakaian dalam sebagai penghargaan dari bos atas kerja kerasnya. Emily justru merasa dilecehkan dan kaget karena di negara asalnya -Amerika Serikat, hal tersebut tabu untuk dilakukan.

Di Amerika memberi hadiah berupa pakaian dalam untuk orang yang belum terlalu dekat, bisa diaggap sebagai pelecehan seksual. Lain halnya di Prancis, yang dinilai sebagai hal lumrah sebagai apresiasi untuk seseorang.

Kisah Emily menarik jika dibedah dengan konsep megamarketing. Konsep yang dipopulerkan oleh Phillip Kotler tahun 1986 ini, menjelaskan bahwa untuk melihat tren pasar saat ini, perusahaan harus melihat faktor-faktor yang ada di luar perusahaan. Faktor tersebut sangat berpengaruh pada bisnis itu sendiri, baik secara stategis, taktis, maupun operasional.

Faktor pertama yaitu Politic-Legal yang berpengaruh pada power perusahaan. Faktor kedua, Social-Culture yang berpengaruh pada public relation suatu perusahaan. Dalam konsep megamarketing, pada masa kini, faktor Social-Culture memberikan pengaruh sangat besar pada masyarakat. Tren yang terjadi dapat berpengaruh besar pada faktor Drivers of Change yang lain. Bahkan dapat memengaruhi perilaku Customer, manuever Competitor, dan tentu saja kita sebagai Company.

Selain itu, meski terhalang soal bahasa, Emily bukanlah sosok yang gampang patah arang. Ia menjalankan tugasnya secara profesional.Di sisi lain, Emily juga bukan sosok perempuan muda yang kaku dalam menjalankan pekerjaannya. Ia cukup berani mengeluarkan inisiatif-inisiatif yang kreatif, bahkan ide-ide gila. Tentu tidak semua orang menerima atau sepaham dengannya. Mengingat kendala bahasa tadi. Namun, ide-ide kreatif Emily membuat para klien perusahaannya jatuh hati padanya.

Ide inovatif dan kreatif yang ia berikan, membuatnya disukai oleh klien. Atasan yang tidak menyukainya juga jadi mulai menaruh respek dengan kinerja dari Emily. Bahkan, di Paris pun Emily berhasil menjadi influencer karena postingan kreatif yang diunggahnya disukai banyak orang lewat Instagram.

Soal kepribadian, Emily merupakan sosok perempuan urban yang punya karakter kuat. Gayanya yang supel, ceria, dan dandanannya yang khas membuat dirinya lebih cepat dikenal di komunitasnya. Pede? Mungkin saja.

Beberapa mitra kerjanya bilang dandanan Emily tergolong norak atau bahkan kampungan. Tapi, Emily tak begitu risau dengan apa kata orang tentang penampilannya. Emily justru menikmati personal branding apa adanya. Selain itu, ia sebenarnya seorang perempuan karier yang romantis.

Emily sudah dapat dikatakan memiliki jiwa entrepreneur yang baik. Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari tidak bisa berbahasa Prancis sampai dikucilkan di kantornya bekerja, Emily tetap melaksanakan tugasnya dengan baik. Ia berani mengambil risiko, jeli melihat peluang, dan mau bermitra dengan siapa saja di tempat barunya, khususnya dengan klien-klien potensial.

Seri Emily in Paris merupakan serial original Netflix yang sudah tayang sejak 2 Oktober 2020. Serial ini baru tayang satu season dengan sepuluh episode. Sedangkan, season 2 nya akan ditayangkan tahun depan.

Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

MARKETEERS X








To Top