Finance

Enam Cara Pegadaian Menyelamatkan Cash Flow

Sumber: Pegadaian

Cash is king merupakan kata yang semakin sering terdengar di masa pandemi. Kondisi bisnis yang ikut turun seiring dengan perekonomian yang melemah menyebabkan cash flow menjadi aspek penting yang harus dijaga. Namun, bagaimana sebaiknya perusahaan menjaga kondisi keuangannya saat sedang sulit?

Dari perspektif perusahaan pendanaan, permasalahan cash flow sudah menjadi santapan sehari-hari. Ninis Kesuma Adriani, Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategis PT Pegadaian (Persero) mengatakan bahwa perusahaannya harus selalu dalam keadaan siap menggelontorkan dana segar untuk mengatasi solusi yang dialami nasabahnya. Artinya, perusahaan harus memiliki kekuatan cash yang mumpuni. Namun nyatanya kekuatan itu tidak serta merta dibangun secara mudah.

“Di masa pandemi ini, kondisi semakin sulit karena kami harus tetap mampu membiayai masyarakat, namun dengan bisnis yang sangat lemah. Belum lagi pengeluaran tidak terduga. Contohnya penjaminan keselamatan kerja pegawai seperti pembelian masker, hand sanitizer, dan sarung tangan. Kondisi keuangan Pegadaian bisa dibilang sangat sulit saat awal-awal pandemi melanda,” tuturnya di gelaran Marketeers iClub, Jumat (06/11/2020).

Namun untuk mengatasi kondisi keuangan perusahaan, bahkan meningkatkan kualitas cash flow, setidaknya ada enam langkah yang dilakukan oleh pegadaian. Di antaranya:

1. Secured funding

Selama masa sulit, Pegadaian terus mengupayakan pendanaan eksternal sehingga bisa memiliki dana untuk kembali membiayai nasabahnya. Di sini, Ninis mengandalkan relasi baik yang telah terjain sebelumnya.

“Dari relasi baik tersebut, kepercayaan untuk pendanaan pasti sudah terbangun. Jadi kami mendapatkan pendanaan dari bank-bank dengan relasi baik untuk melakukan pendanaan kepada Pegadaian. Perlu ditegaskan juga kepercayaan ini harus dikembalikan setimpal sehingga relasi itu tidak menjadi buruk di masa depan,” katanya.

2. Perlindungan cash flow

Sebagai perusahaan yang harus siap melayani nasabahnya, sangat diperlukan untuk memiliki aset yang bisa diandalkan bahkan saat sulit. Untuk itu Pegadaian tidak pernah absen mempersiapkan aset likuid. Hal ini bisa dilihat dari produk-produknya berupa pinjaman cash dan tabungan emas. Selain itu, Pegadaian juga memiliki tabungan untuk melindungi kondisi cash flow di masa apapun.

3. Mencari pendanaan yang lebih mudah

Untuk menjaga kondisi keuangan dan meningkatkan kualitas cash flow, Pegadaian menjadikan penerbitan obligasi dan sukuk untuk mendapatkan dana segar yang mudah.

“Aspek ini merupakan keuntungan yang dimiliki Pegadaian sebagai perusahaan negara. Sama seperti aset bergerak yang bisa dimanfaatkan untuk memutar cash saat dibutuhkan,” jelasnya.

4. Monitoring ketat

Peningkatan cash flow tidak akan terjadi jika tidak ada pengawasan yang ketat terhadap kinerja bisnis dan cash flow itu sendiri. Di masa sulit, perusahaan harus semakin detail dalam menghitung kinerja dan membandingkan cash flow yang keluar dan masuk. Dengan demikian, akan terukur efektivitas kerja perusahaan yang bisa menjadi dasar penentuan strategi dan pengamanan cash flow perusahaan.

5. Program percepatan pembayaran nasabah

Meskipun sempat menjadi hal yang tersulit, Pegadaian tetap melancarkan program percepatan pembayaran nasabah dengan tujuan dana yang dibayarkan bisa digunakan untuk diputar dalam bisnis atau menjaga kualitas cash flow. Pegadaian mengadopsi sistem restrukturisasi kredit untuk menggenjot pembayaran nasabahnya dan diklaim berhasil.

6. Review target

“Terakhir, perlu ada review target seperti melihat tingkat prioritas biaya dan evaluasi produk yang berdampak risiko terjadinya kredit macet. Hal ini perlu menjadi pertimbangan agar bisa mengoptimalkan produk yang lebih menghasilkan cash dibandingkan yang menghambat masuknya cash ke perusahaan,” tambahnya Ninis.

Lebih lanjut, Ia menyarankan perlunya adopsi digital dalam pengeloaan cash flow. Tujuannya, agar monitoring dan review target dapat dilakukan secara maksimal. Contohnya menggunakan Cash Management System (CMS) untuk mengumpulkan data dana giro cabang.

“Tidak hanya daris sisi internal perusahaan, tapi juga perlu memerhatikan sisi nasabah. Misalnya mempermudah layanan lewat digitalisasi transaksi. Dengan kemudahan ini, nasabah akan lebih mudah melakukan pembayaran dan transaksi lain yang berujung pada memberikan cash untuk perusahaan,” tutupnya.

Editor: Ramadhan Triwijanarko

MARKETEERS X








To Top