Faktor Risiko dan Pengaruh Gawai Digital Sebabkan Masalah Mata Kering

marketeers article
Faktor Risiko dan Pengaruh Gawai Digital pada Masalah Mata Kering. (Dok. JEC)

Sebagai bentuk perhatian terhadap isu mata kering yang banyak mengancam masyarakat perkotaan, JEC Eye Hospitals and Clinics memperkenalkan kembali layanan unggulannya, JEC Dry Eye Service. Layanan yang dikhususkan untuk menangani kasus mata kering, sekaligus hadir untuk memperingati Bulan Kesadaran Mata Kering sepanjang Juli 2023.

Ada beberapa variabel yang dapat meningkatkan risiko terkena mata kering atau dry eye. Faktor tersebut antara lain usia di atas 50 tahun, terutama bagi perempuan pascamenopause.

Kemudian, penggunaan lensa kontak, sering berada di lingkungan berdebu, kering, berangin, terpapar asap rokok, dan terlalu lama menatap layar elektronik seperti TV, komputer, serta gawai digital juga menjadi faktor penyebab mata kering.

BACA JUGA: 5 Rekomendasi Project Management Tools Bikin Karyawan Produktif

Selain itu, memiliki riwayat operasi atau penyakit mata lainnya, penggunaan obat-obatan untuk penyakit tertentu, baik yang bersifat sistemik maupun yang berkaitan dengan mata, dan menderita penyakit metabolisme, seperti Diabetes Melitus juga menjadi penyebab masalah mata ini.

“Dry eye merupakan gangguan mata kronis yang memerlukan penanganan jangka panjang. Penanganan dry eye harus disesuaikan dengan keluhan, mekanisme penyebab, dan tingkat keparahan yang dialami penderita. Sebab itu, pemeriksaan diagnostik yang komprehensif sangat penting agar penderita mendapatkan penanganan yang tepat untuk masalah mata kering ini,” ujar Dr. Nina Asrini Noor, SpM, Dokter Spesialis Mata dan Ketua Dry Eye Service di JEC Eye Hospitals and Clinics di Jakarta, Selasa (18/7/2023).

BACA JUGA: RS Premier Jatinegara Hadirkan Layanan Eyecentric Clinic

Gaya hidup modern yang seringkali melibatkan penggunaan gawai digital juga berkontribusi pada masalah mata kering. Penelitian yang dilakukan oleh National Library of Medicine menunjukkan bahwa gejala mata kering yang parah lebih sering dialami oleh mereka yang menggunakan layar elektronik selama lebih dari 4 jam per hari.

Data dari Headphones Addict menunjukkan bahwa durasi tatap layar masyarakat Indonesia menggunakan ponsel menjadi yang terlama di dunia, yaitu 5 jam 39 menit per hari. Selain itu, durasi screen time masyarakat Indonesia melalui berbagai perangkat berlayar elektronik (seperti TV, komputer, tablet, ponsel, dan lainnya) menempati peringkat kesebelas terlama di dunia, mencapai 7 jam 42 menit per hari.

Secara fisiologis, dry eye disebabkan oleh tiga mekanisme utama, yaitu kerusakan pada kelenjar Meibom di kelopak mata atau Meibomian Gland Dysfunction (MGD), penguapan air mata berlebih atau Evaporative Dry Eye (EDE), serta penurunan produksi air mata atau Aqueous Deficient Dry Eye (ADDE).

Adapun, MGD menjadi penyebab paling umum dari masalah mata kering. Terlebih lagi, pada populasi Asia, persentase MGD lebih tinggi dibandingkan kelompok penduduk di wilayah lain, mencapai 46-70 persen. Beberapa studi juga menemukan bahwa orang yang menghabiskan waktu lebih dari 4 jam menatap layar elektronik memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami MGD.

Related

award
SPSAwArDS