Finance

Fintech Report 2020 Temukan Dua Sektor yang Subur Secara Digital

SUMBER: 123RF

Banyak tren terkait finnancial technology (fintech) muncul selama pandemi. Beberapa di antaranya adalah investasi digital serta asuransi yang dapat dibeli secara online.

Sebenarnya aplikasi yang berkaitan dengan dua hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru muncul karena situasi saat ini. Namun, rendahnya literasi keuangan dan instrumen investasi yang kurang populer membuat sejumlah platform hanya mampu menggaet target pengguna yang spesifik. Contohnya,  Stockbit, yang bergerak di investasi saham dan menjadi salah satu pionir pada tahun 2013.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai instrumen investasi seperti saham, reksa dana, hingga emas mulai dilirik masyarakat. Kemudahan untuk melakukan investasi lewat aplikasi tampaknya menjadi dorongan utama mereka untuk mulai memikirkan perencanaan keuangan masa depan.

Sumber: Fintech Report 2020, DailySocial

Namun pada awal tahun 2020, terjadi fenomena yang lebih menarik lagi yaitu meningkatnya popularitas investasi emas. Pegadaian menjadi salah satu pemain yang ikut merasakan kenaikan nasabah instrumen investasi ini dengan produk Tabungan Emas. Selama Januari hingga September 2020, Pegadaian bahkan mencatat peningkatan nasabah mencapai tiga juta orang. Hal ini tampaknya merupakan dampak dari kenaikan harga emas yang cukup tinggi, sehingga produk ini laris manis.

“Di saat krisis, emas bisa mengalami peningkatan hingga 30% dan bisa sangat menguntungkan untuk jangka panjang. Jika kita simpan dalam tabungan rupiah yang bukan deposito, bunganya hanya 1-2% saja. Tetapi, return dari emas akan jauh lebih besar. Sehingga, tabungan ini bisa menjadi produk yang sangat menguntungkan untuk jangka pendek maupun jangka panjang,” jelas Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) Kuswiyoto.

Momentum ini juga dimanfaatkan oleh dompet digital, DANA yang bekerja sama dengan Pluang untuk memberikan opsi investasi pada masyarakat lewat fitur DANA eMAS. DANA sendiri bukanlah mitra pertama Pluang dalam memasarkan produk investasi emas. Sebelumnya perusahaan fintech ini telah berkolaborasi dengan Gojek dengan GoInvestasi dan BukaEmas milik Bukalapak.

Sektor lainnya yang tumbuh positif selama setahun terakhir adalah insurtech. Meski penetrasi industri asuransi jiwa tercatat hanya sebesar 1,1% per Juli 2020 karena tekanan ekonomi yang terjadi akibat pandemi. Insurtech justru tampak naik daun. Hal ini tidak lepas dari perubahan kebiasaan dari masyarakat yang menjadi lebih digital dan kesadaran terhadap kebutuhan asuransi yang meningkat.

“Saat ini, transformasi digital asuransi telah terjadi dan pondasinya telah terbangun semakin kuat selama 2020 karena adanya pandemi. Industri insurtech pada tahun 2021 berpeluang semakin bertumbuh,” ungkap Cleosent Randing, CEO dan Founder PasarPolis.

Optimisme yang sama juga ditunjukkan Igloo yang mengklaim pertumbuhan bisnis positif dengan membukukan peningkatan gross premium lebih dari tiga kali lipat. Perubahan gaya hidup masyarakat dimanfaatkan Igloo untuk menawarkan produk baru sepanjang tahun 2020 seperti produk proteksi elektronik, asuransi isi rumah, perpanjangan garansi, asuransi bencana, proteksi COVID-19, hingga biaya rawat inap.

Perusahaan fintech ini pun menargetkan peningkatan angka polis hingga tiga kali lipat dalam dua tahun ke depan. Igloo berencana meluncurkan asuransi untuk penyakit tunggal, kendaraan, bisnis, keamanan internet, e-wallet, dan hewan peliharaan. Karenanya, mereka terus membuka peluang untuk bekerja sama dengan mitra-mitra baru untuk memperluas bisnis.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

The Latest

To Top