Lifestyle & Entertainment

Gamification Jadi Strategi Brand Mewah Menarik Konsumen Muda

SUMBER: LEAGUE OF LEGENDS

Industri merek mewah dan game memang tampak bertolakbelakang. Namun, jika dikolaborasikan, keduanya bisa menjadi cara apik untuk menarik perhatian konsumen. Hal itu sepertinya disadari betul oleh sejumlah merek fesyen mewah seperti Louis Vuitton, Chanel, dan Burberry.

Pada September 2020, Louis Vuitton mengumumkan kolaborasi unik dengan perusahaan pengembang game, Riot Games. Salah satu game produksi Riot Games yang sudah mendunia adalah League of Legends (LoL). Kerja sama kedua pihak ini ditujukan untuk kompetisi e-sport dunia yaitu “League of Legends World Championships” yang dihelat Oktober lalu.

Kerjasama Louis Vuitton dan Riot Games terlihat pada tempat trofi yang didesain khusus dan skin unik untuk karakter main bagi pemenang. Koleksi tersebut dirancang langsung oleh Direktur Artistik Koleksi Wanita Louis Vuitton Nicolas Ghesquiere.

Analis Senior Euromonitor International Kang Jeongheon mengungkapkan bahwa marketing yang dilakukan Louis Vuitton bersama LoL cukup efektif. Pasalnya, video game merupakan permainan yang dinikmati dengan jangka waktu panjang. Bahkan, untuk pemain nonprofesional saja, mereka bisa menghabiskan waktu 30 menit dalam satu kali main.

Kolaborasi unik ini bukanlah pertama kali bagi Louis Vuitton. Dilansir dari Korea Times, pada tahun 2016, mereka juga menggemparkan dunia game dan fesyen dengan menjadikan karakter game Final Fantasy XIII dari perusahaan pengembang di Jepang, Square Enix, sebagai model.

“Merek mewah menua. Tapi, tentunya mereka tidak mau produknya dilihat sebagai sesuatu yang biasa dimiliki para orang tua. Dengan memberikan exposure seperti logo dan produk mereka di game, merek fesyen mewah ini ingin generasi muda lebih mengenal mereka dan mendapatkan loyalitas,” ujar Profesor Jeon Seongmin dari College of Business of Gachon University.

PMX Agency, perusahaan pemasaran Amerika Serikat, memperkirakan bahwa konsumen yang lahir di awal 1980 dan 2000-an berpotensi mengambil lebih dari 45% pasar barang mewah dunia pada tahun 2025. Konsumen di rentang usia tersebut terbiasa dengan platform game dan saling berkomunikasi dengan baik di sana. Sehingga, dapat dikatakan game merupakan salah satu media sosial lain bagi anak muda.

Sumber: @BurberryCorp – Twitter

Nyatanya, sudah banyak merek yang mengadopsi gamification dalam berbagai aktivitas dalam perusahaan mereka. Merek fesyen asal Inggris Burberry contohnya. Mereka meluncurkan game online sendiri yang diberi nama B Surf. Dan, ini merupakan ketiga kalinya Burberry memperkenalkan multiplayer game dengan karakter yang mengenakan pakaian Burberry.

Sedangkan Chanel memberikan pengalaman game di gerai-gerai pop up mereka. Konsumen bisa mencoba bermain game yang telah disediakan dan mendapatkan pengalaman dari berbagai produk.

Berbagai aktivitas pemasaran yang mengikutsertakan game hingga kini terus berlanjut dan berkembang. Game diyakini mampu menghubungkan merek dengan generasi muda yang akan menjadi konsumen mereka di masa depan.

Editor: Ramadhan Triwijanarko

MARKETEERS X








To Top