Lifestyle & Entertainment

GMTI: Indonesia Pimpin Pertumbuhan Pasar Halal Travel

Sumber: 123RF

Halal travel menjadi tren pasar yang memiliki pertumbuhan pasar luar biasa pada beberapa tahun ke belakang ini. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya populasi Muslim dunia. Pada tahun 2019, Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019 merilis laporan Indonesia dan Malaysia untuk pertama kali berbagi tempat di posisi puncak dalam tingkat pertumbuhan pasar halal travel tercepat.

GMTI menelusuri pertumbuhan dan ekosistem destinasi wisata ­Muslim-friendly di empat area strategis, yaitu akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan. Kini, GMTI merupakan salah satu riset unggulan dalam memberikan insight dan data untuk membantu negara, industri pariwisata, dan investor untuk melakukan pertumbuhan dalam sektor pariwisata Muslim atau halal travel.

Seperti dikutip dari keterangan resmi Crescentrating, pasar halal travel merupakan salah satu sektor pariwisata dengan tingkat pertumbuhan tercepat di dunia. Namun, sektor ini masih tergolong tidak tereksplorasi dengan baik meskipun memiliki potensi yang sangat besar. Menurut GMTI, pada tahun 2026 sektor halal travel akan memiliki kontribusi yang besar terhadap ekonomi global. Diperkirakan sektor ini akan meningkat hingga 35% menjadi US$ 300 miliar. Pada saat itu, wisatawan Muslim akan tumbuh hingga 230 juta orang dan menunjukkan 10% dari jumlah wisatawan global di dunia.

Sementara itu, pada tahun 2019, Indonesia dan Malaysia berbagi tempat di posisi pertama pertumbuhan halal travel tercepat. Kedua negara ini sama-sama mendapatkan skor 78 dalam indeks GMTI. Hal ini diakibatkan dari dorongan Kementerian Pariwisata dalam usaha investasinya di industri halal travel. Salah satunya adalah dengan meningkatkan fasilitas Muslim-friendly di berbagai titik destinasi pariwisata.

Dalam penilaian ini, GMTI menetapkan lima tujuan pengembangan travel halal, di antaranya adalah

  1. Integration, Diversity, dan Faith : mendorong Muslim untuk menjadi publik aktif sebagai komunitas global saat tetap menjadi masyarakat yang spiritual,
  2. Heritage, Culture, dan Connection: Menghubungkan wisatawan Muslim satu sama lain dengan komunitas lokal dan sejarah serta budaya dari tujuan destinasi wisata yang mereka pilih.
  3. Education, Insights, dan Capabilities: Meningkatkan toleransi di antara komunitas. Meningkatkan pengetahuan akan nilai akademis dan industri yang dapat mendorong kapabilitas stakeholder.
  4. Industry, Innovation, dan Trade: Membentuk kesempatan baru untuk meningkatkan penjualan lewat pariwisata dan mengembangkan pertumbuhan dari berbagai sektor ekonomi.
  5. Well-Being dan Sustainable Tourism: Mengetahui kewajiban sebagai stakeholder dalam sektor pariwisata dan pengaruh sosial kepada wisatawan, komunitas luas, dan lingkungan.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X








To Top