Hadapi Resesi Global 2023, Ini Strategi Pemain Industri Telekomunikasi

marketeers article
Ilustrasi tahun 2023. (Sumber: 123RF)

Kondisi perekonomian global pada tahun depan diprediksi tidak baik-baik saja. Sejumlah pihak memprediksi akan ada resesi global 2023 yang membuat negara seperti Indonesia harus tetap waspada dan berhati-hati. Sinyal resesi tahun 2023 pun ditangkap para pemain industri telekomunikasi Tanah Air dengan melakukan berbagai langkah antisipatif. 

Hal ini menjadi bahasan hangat forum IndoTelko. Founder IndoTelko Forum Doni Ismanto Darwi mengatakan, perekonomian Indonesia lebih dari 50% ditopang konsumsi rumah tangga. Kondisi ini menjadikan sektor telekomunikasi masih diuntungkan tahun depan karena konektivitas dan layanan digital sudah menjadi kebutuhan pokok selama pandemi hingga sekarang.

Diprediksi, melihat kinerja dari sektor telekomunikasi selama 9 bulan pertama tahun 2022, pada tahun 2023 industri telekomunikasi bisa tumbuh di kisaran 4% hingga 5%. 

“Pertumbuhan layanan data masih menjanjikan, sementara pemain berkurang karena konsolidasi, tentu harga ritel layanan akan lebih rasional untuk menjaga margin operator telekomunikasi,” katanya pada diskusi yang digelar secara online pada Rabu (30/11/2022).

Menurutnya, hal yang menjadi tantangan bagi operator adalah kebutuhan belanja modal yang tinggi karena harus investasi untuk jaringan terutama 5G. “Apalagi tahun depan akan dibuka lelang frekuensi pasca-Analog Switch Off (ASO), tentu ini butuh modal besar,” kata Doni.

BACA JUGA: CEO JPMorgan Prediksi Resesi Akan Terjadi Pertengahan 2023

Di sisi lain, Ismail Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Kominfo mengatakan bahwa industri digital yang dulu sebagai nilai tambah industri telekomunikasi dalam ICT justru kini jadi pelaku utama. 

Dari sini, semua yang terlibat dalam ICT  perlu melakukan perubahan pendekatan agar yang tadinya tumpuan industri ICT pada telco operators, sekarang berpindah ke layer berikutnya yakni layer platform, aplikasi dan konten. 

Sebab itu, semua pihak harus mengakomodasi perubahan bisnis model, tidak terkecuali pemerintah. “Pemerintah harus melakukan pendekatan baru agar menjamin keberlangsungan industri digital di Tanah Air. Pemerintah pun telah mengubah perannya bukan sekadar regulator tetapi juga investor, khususnya untuk membangun infrastruktur, seperti pada proyek Palapa Ring” kata Ismail.

Webinar HUT IndoTelko bertajuk “Strategi Industri Digital Indonesia Hadapi Resesi Global”

Langkah yang diambil para pemain

Beragam langkah diambil para pemain industri telekomunikasi untuk menyambut tahun 2023. Telkomsel sebagai salah satu pemain besar memilih untuk memperkuat ekosistem bisnisnya dengan melakukan perluasan portofolio produk dan entitas perusahaan.

“Untuk mempersiapkan diri, Telkomsel memastikan roadmap perusahaan dengan berinovasi, menghadirkan layanan bisnis vertikal. Kami memperkuat core business sebagai penyedia fasilitas digital di Indonesia dengan menghadirkan solusi dan nilai tambah ke dalam produk,”  kata Hendri. 

Telkomsel juga merilis sejumlah aplikasi sebagai solusi di masyarakat di berbagai sektor, seperti edutech melalui Kuncie, lalu di sektor healthtech, Telkomsel memiliki aplikasi Fit. 

“Kami juga sedang mengembangkan bisnis di sektor pangan melalui platform DFE yang membawa konsep smartfarming,” jelas Hendri. Berbeda dengan yang dilakukan oleh XL Axiata. Dian Siswarini, CEO dan President Director XL Axiata mengatakan, pihaknya yakin pertumbuhan XL Axiata tahun 2023 masih tetap positif seperti tahun sebelumnya. 

“Tahun depan, perusahaan akan fokus ke tiga pilar utama, yakni fokus pada penawaran convergent sesuai dengan visi perusahaan yang menyasar segmen keluarga dan SME. Kedua, XL Axiata akan mengembangkan infrastruktur jaringan. Ketiga meningkatkan layanan digital demi menjaga kepuasan pelanggan,” kata Dian pada kesempatan yang sama. 

BACA JUGA: Hermawan Kartajaya: Tahun 2022 dan 2023 Momentum untuk Investasi

Soal layanan, perusahaan akan meningkatkan sistem automasi dan digitalisasi untuk efisiensi operasional. Menggunakan AI dan analitik, harapannya solusi yang diberikan dapat tepat sasaran sesuai yang konsumen butuhkan.

Selain itu, perusahaan juga mempersiapkan diri untuk menghadapi peningkatan biaya yang mungkin terjadi tahun depan dengan cara menekan biaya operasional seperti energy saving.

“Kami juga akan mempertahankan posisi finansial perusahaan yang kuat dengan cara meningkatkan debt to ebitda ratio. Serta menjaga cashflow di posisi positif,” terang Dian. 

Tak ingin ketinggalan, Indosat Ooredoo Hutchison juga terus bergerak untuk mengembangkan layanan 5G di sejumlah kota demi mendukung percepatan digitalisasi di Tanah Air. 

“Yang sangat penting adalah soal literasi digital agar masyarakat Indonesia, terutama kaum muda menggunakan teknologi secara positif. Kemudian, kita perlu mendukung sektor UKM lantaran sektor ini berkontribusi 60% bagi ekonomi Indonesia. Salah satu inisiatif kami adalah adanya marketplace Indosat untuk UKM,” kata Vikram Sinha, President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison.

Tak hanya itu, Indosat juga memiliki ID camp, yang mempersiapkan talent digital agar mampu berkiprah secara global. Terlebih, perusahaan tengah mendorong kiprah perempuan dalam pembangunan ekonomi nasional.

“Mari berkolaborasi untuk mendorong digitalisasi di Indonesia, untuk menghubungkan Indonesia dan memberikan pengalaman terbaik bagi setiap warga Indonesia,” pungkas Vikram. 

Related

award
SPSAwArDS