Property

Hadirkan Omnichannel, Central Dept Store Jualan via WhatsApp

Industri ritel memang mengalami upsanddowns, apalagi ritel fisik tengah mengalami gempuran dari para peritel online yang kian masif menjaring pelanggan. Namun, Central Department Store punya cara lain mengahadapi pasar online.

Ritel asal Thailand yang membuka gerai perdananya di Indonesia sejak empat tahun silam itu menggunakan aplikasi pesan instan WhatsApp sebagai salah satu kanal penjualan. Platform yang disebut Central on Demand (COD) itu telah dijalankan selama setahun terakhir demi menjaring pelanggan berbelanja daring melalui smartphone-nya.

Managing Director PT Central Retail Indonesia Sunny Setiawan mengatakan, melalui COD yang diakses di nomor 08119898768, pihaknya bisa merangkul para konsumen yang berada di luar Jakarta untuk berbelanja di Central. Pasalnya, department store itu baru memiliki dua gerai di Indonesia, yaitu di East Mall – Grand Indonesia, dan NEO Soho Mall. Keduanya berlokasi di Jakarta.

Central on Demand telah menjangkau mereka yang berada di luar Jawa, seperti Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Kami membuat tim yang dedikasi untuk menjawab semua pertanyaan pelanggan lewat WhatsApp,” papar dia saat membuka seremoni Hari Jadi Central Depstore ke-4 di Grand Indonesia, Kamis, (30/8/2018).

Sunny melanjutkan, COD pada dasarnya inisitaif yang digulirkan oleh Central di negara asalnya Thailand. Namun, yang dilakukan Central Thailand sudah lebih advance, di mana penjualan yang dihasilkan dari COD cukup tinggi. Meski begitu, pihaknya yakin Central Indonesia akan menuju hal yang sama.

Nantinya, tim Central akan menanyakan pelanggan perihal warna pakaian yang diinginkan, ukuran, alamat pengiriman, dan jenis pembayaran. Layanan ini pun bisa digunakan untuk semua produk yang dijual di Central, dari mulai fesyen, aksesori, hingga kosmetik.

e-Commerce

Sunny mengakui bahwa kehadiran e-commerce menjadi tantangan tersendiri bagi bisnis ritel yang mengandalkan toko fisik. Meski bisnis online baru menguasai 5% dari total pasar ritel, Central perlu melakukan amunisi agar pelanggannya tetap tidak banyak beralih dalam berbelanja online.

Sebenarnya, inisiatif berbelanja via WhatsApp adalah cara yang menarik, meskipun gaya ini dianggap cukup ketinggalan. Sebab, beberapa ritel besar memilih membangun jaringan online-nya sendiri dengan biaya mahal. Walau pada akhirnya, banyak dari ritel online itu belum mampu menghasilkan penjualan memuaskan.

“Karena memang membangun e-commerce itu mahal. Central on Demand adalah cara kami menjembatani antara online dan offline atau cara kami menuju ritel omnichannel,” kata dia.

Lantaran inisiatif itu, jaringan ritel yang didirikan pada tahun 1947 itu menjadi satu-satunya department store yang berjualan via WhatsApp. Pelanggan dapat memeriksa ketersediaan produk melalui live chat kepada concierge, dan melakukan pembelian lewat berbagai opsi pembayaran online. Pengguna kemudian dapat mengambil produk di toko di mana mereka membeli atau bisa juga dikirimkan melalui jasa kurir.

Gaya omnichannel itu juga diterapkan Central di sembilan gerai mewahnya yang berada di Eropa, yang kini belokasi di Denmark, Itali, Jerman, dan Spanyol. Pelanggan dari Thailand misalnya, bisa membeli produk lokal di Eropa tanpa membayar pajak sebesar 18%. Produk pun dikirimkan dalam waktu 2-5 hari.

“Ini juga mimpi saya, bagaimana Central di Jakarta juga bisa demikian. Pelanggan kami harapannya dapat terkoneksi dengan jaringan Central di Thailand dan Eropa,” tambah dia seraya mengatakan barang impor, khususnya dari Thailand, hanya menguasai 20%. Sisanya berasal dari mitra lokal baik distributor, pemegang merek, maupun desainer.

Sunny juga menambahkan, biasanya mereka yang menggunakan WhatsApp adalah tipe pelanggan yang sudah siap melakukan transaksi atau telah membayangkan produk di dalam pikirannya, sehingga mengurangi durasi berbelanja.

Soal e-commerce, Central Thailand sudah membangun situs dan aplikasi mobile AuxVillesDuMonde.com yang sebenarnya adalah platform e-magazine dan e-newsletter. Kanal ini memberikan informasi seputar merek yang dijual dari delapan kota di mana Central beroperasi, antara lain Berlin, Munchen, Vienna, Hamburg, Milan, Copenhagen, dan Roma.

Jakarta memang belum masuk dalam jarigan cross-border shopping Central di dunia. “Tahun depan, kami usahakan Indonesia masuk dalam bagian perdagangan online antarnegara,” tegas Sunny.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

MARKETEERS X








To Top