Finance

Harga Bitcoin Merosot Tajam, Simak Alasannya

Sumber: 123RF

Akhir-akhir ini, harga bitcoin terus merosot tajam hingga US$ 30.000. Padahal, di awal tahun  sempat mengalami kenaikan drastis. Hal ini terjadi lantaran negara China yang melakukan tindakan keras dengan menutup pertambangan aset Bitcoin.

Dilansir dari Times, sejak Januari hingga April lalu, aset kripto telah kehilangan lebih dari 50%, mencapai US$ 65.000.  Menurut Sean Rooney, Kepala Penelitian Manajer Aset Crypto Valkyrie Investments, penurunan ini menandakan bahwa trader Bitcoin akan menemukan diri mereka terombang-ambing selama beberapa waktu ke depan.

Selain itu, pengamat grafik juga mengatakan bahwa Bitcoin telah gagal merebut kembali US$ 40.000 beberapa waktu lalu. Bitcoin akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan US$ 30.000 jika harganya turun di bawah nilai itu. Namun demikian, Bitcoin berhasil menembus $30.000, walaupun terus mengalami penurunan setidaknya lima kali di tahun ini.

“Setiap terobosan signifikan di bawah US$ 30.000 akan membuat banyak pemain menyerah. Maka dari itu, jika Bitcoin dapat mengubah dunia dalam jangka waktu yang panjang, tidak menutup kemungkinan untuk jatuh kembali dalam jangka waktu yang pendek,” jelas Matt Maley, Kepala Strategi Pasar Miller Tabak + Co.

Ini adalah penurunan yang luar biasa bagi aset kripto  yang bahkan beberapa waktu lalu masih mendapat dukungan dari Wall Street serta investor ritel lainnya. Namun, adanya tekanan negatif tentang penggunaan energi dari Bitcoin, yang sebagian besar merupakan efek dari komentar CEO Tesla Inc, Elon Musk, serta tindakan keras dari negara China, menyebabkan Bitcoin mengalami penurunan tajam akhir-akhir ini.

“Penjualan Bitcoin telah mendapatkan pandangan negatif oleh para pedagang, yang kemudian didorong oleh berita buruk dari China. Suasana hati para pedagang kripto kian hari terus memburuk akibat hal ini,” kata Nick Mancini, Analis Riset Trade The Chain.

Level dukungan $30.000 untuk Bitcoin tetap stabil selama aksi jual bulan lalu yang membuatnya menghapus sekitar 35% penurunan di bulan Mei. Sementara itu, penurunan harga Ether telah mendorong Bitcoin mendekati harga US$ 1.500.

Aksi unjuk rasa yang meriah dan penarikan cepat bukanlah hal yang aneh untuk Bitcoin dan mata uang kripto lainnya. Bitcoin mengalami kebangkitan pada tahun 2017, naik lebih dari 1.000% di tahun tersebut dan hanya kehilangan sekitar 75% di tahun berikutnya. Bahkan, pada tahun 2020, penjualan Bitcoin mengalami kenaikan hingga 300%.

“Bagian pasar yang paling spekulatif adalah cryptocurrency. Pada akhirnya yang akan menentukan nilai Bitcoin adalah banyaknya permintaan dan penawaran. Ketika China menentang Bitcoin, itu yang membuatnya buruk di mata global, sehingga orang lain melihat nilainya semakin memburuk,” kata Eric Diton, Presiden dan Direktur Pelaksana The Wealth Alliance.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

MARKETEERS X








To Top