Hati-Hati! TikTok Shop Jadi Ancaman bagi Marketplace Indonesia

marketeers article
Ilustrasi e-commerce dalam TikTok. (FOTO: 123RF)

TikTok menapaki pengaruhnya di industri digital sebagai media sosial yang mulai bertransformasi menjadi marketplace dengan nama TikTok Shop. Kehadiran TikTok Shop sebagai marketplace mulai bersinggungan dengan para pendahulunya, seperti Shopee dan Tokopedia. 

Ancaman mampu menggeser posisi para pendahulunya ini menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk ditelisik lebih dalam. Dalam program Market Think pada kanal YouTube Marketeers TV, Ignatius Untung sebagai Praktisi Marketing and Behavioral pun ikut menuangkan pemikirannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri marketplace mulai mengerucut dari 12 besar menjadi lima besar bahkan posisi tiga besar sudah tak tergoyahkan. Meski tak tergoyahkan, namun TikTok yang awalnya video sharing platform mulai memiliki pengaruh besar untuk menjadi platform marketplace yang membuat pemain tiga besar perlu berhati-hati. 

Hal ini terlihat dari bagaimana merek besar hingga kecil mulai berbondong-bondong takut ditinggal konsumen jika tidak mulai melakukan TikTok Live. Bahkan, berkat TikTok penjualan para merek tersebut bisa mencapai miliaran dan waktu Live bisa berlangsung 24 jam. Fakta ini cukup mencengangkan, bukan?

BACA JUGA: Branding vs Marketing: Dua Konsep yang Sering Bikin Pemasar Keliru

Oleh karena itu, banyak praktisi yang memprediksi TikTok Shop bisa-bisa mengalahkan Shopee dan Tokopedia sebagai dua pemain utama sebagai marketplace terkuat di Indonesia.

“Kedua raksasa marketplace itu pun, Shopee dan Tokopedia juga mulai putar otak gimana caranya bisa menambal kebocoran karena tidak sedikit seller mereka yang sekarang lebih berfokus ke TikTok. Hasil jualannya pun lebih baik, termasuk mulai bikin feature live selling yang mirip dengan Shopee, tapi hasilnya kayaknya belum mendekati live selling-nya TikTok,” kata Untung.

Untung menjelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi karena awalnya orang memakai TikTok bukan untuk belanja, tetapi bisa digoda untuk belanja. Konsep ini sama seperti mal.

Sebagian besar orang di kota-kota besar datang ke mal mungkin bukan untuk belanja, tapi lebih untuk menikmati suasana yang adem, jalan-jalan tanpa kepanasan, dan tempat menarik untuk sekadar cuci mata. Meski demikian, tak sedikit juga orang yang ketika keluar dari mal malah membawa belanjaan. Inilah konsep yang serupa dengan TikTok.

“Sebagian besar dari kita ke TikTok bukan untuk belanja, tapi cari hiburan dan konten, tapi bukan berarti nggak bisa digoda untuk belanja. Bahkan, enggak sedikit yang akhirnya tergoda untuk beli,” ujarnya.

Konsep inilah yang berbeda dengan marketplace yang konsepnya seperti pasar. Tidak ada orang yang datang ke pasar tanpa ada tujuan dan kebutuhan untuk membeli sesuatu. 

Justru non-intrusiveness TikTok ini yang membuat orang mau menyimak dan mengeksplor sehingga menjadi beli. Orang tidak merasa dipaksa,” katanya.

Tak hanya itu saja, Untung juga menyebutkan relevansi dengan storytelling yang lebih baik juga dimiliki oleh TikTok. Dengan bantuan machine learning, interest setiap orang dapat difasilitasi dengan baik oleh konten-konten TikTok.

Ketika seseorang memiliki ketertarikan pada suatu produk atau konten, maka orang tersebut akan memiliki engagement dengan konten tersebut. Inilah kekuatan TikTok dibanding marketplace.

BACA JUGA: Perbedaan Branding dan Marketing, Jangan Salah Kaprah Ya!

Marketplace hanya dapat mendeteksi calon pelanggan paling potensial, sedangkan TikTok mampu mengenali calon pelanggan yang hanya baru tertarik dan berada pada tahap awal consumer decision journey. 

Selain itu, referral juga menjadi cara untuk meng-influence orang yang paling powerful sepanjang masa hingga saat ini, meskipun teknologi marketing semakin berkembang. 

Rekomendasi dari orang lain selalu ampuh dilakukan meskipun bukan dari orang yang dikenal, yang penting orang yang bisa dipercaya. Maka dari itu, review di marketplace juga berpengaruh besar.

“TikTok fasilitasi referral dengan lebih baik lagi, bukan cuma sekadar tulisan dan rating yang ada di marketplace, tapi bahkan bentuk video dengan storytelling yang baik. Itu mempersuasi konsumen dengan lebih baik lagi sehingga dampaknya juga lebih bagus,” ucapnya.

Keunggulan TikTok lainnya adalah mampu menangkap audiens baik dari tahap awareness hingga pembelian. Hal ini berbeda dengan marketplace yang hanya mampu mengubah calon pelanggan warm ke hot, sedangkan TikTok Shop dari cold hingga hot bisa.

Penyebab utamanya adalah TikTok sebagai platform hiburan yang mampu menyasar seluruh kalangan pelanggan yang sebagian besar memiliki sifat impulse buying. Oleh karena itu, marketplace dapat memanfaatkan kondisi pelanggan yang memang plan buying. 

Untung juga memberikan beberapa saran strategi bagi marketplace agar tidak kalah dengan TikTok Shop.

“Marketplace harus kenal konsumennya, apa kebutuhannya, kapan butuhnya, dan spend effort untuk barang-barang yang dibeli berulang, sehingga kita bisa bikin mereka tetap ke kita dan balik lagi,” ucap Untung.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mempertahankan kecepatan pengiriman produk agar tidak disalip oleh TikTok yang sudah memberikan pelayanan yang terus membaik. Untung juga menyarankan untuk marketplace dapat memperbanyak konten video referal yang entertaining calon pelanggan, sehingga visualisasi jadi lebih baik. 

BACA JUGA: 7 Perbedaan Selling dan Marketing, Salah Paham Bisa Salah Strategi!

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS