Transportation & Logistic

Hermawan Kartajaya Ramal Nasib Bisnis Transportasi

Photo Credits: 123rf

Perilaku masyarakat yang mengurangi aktivitas perjalanan akibat pandemi COVID-19 membawa dampak signifikan bagi industri transportasi. Pertumbuhan moda transportasi dan barang tercatat minus. Founder and Chairman MarkPlus, Inc., Hermawan Kartajaya menilai, industri ini harus bisa recovery dalam dua tahun (2021-2022). Jika tidak, bisnis transportasi kemungkinan tidak bisa reform atau pun rise pada 2023-2030.

Hermawan meyakini, 2030 bakal menjadi tahun kejayaan bagi Indonesia. Para pelaku bisnis transportasi pun harus bersiap diri.

“Yang diperlukan saat ini adalah Creativity, Innovation, Entrepreneurship, dan Leadership (CI-EL). Terutama, bagi industri transportasi yang sedang menderita,” ungkap Hermawan dalam gelaran virtual Industry RoundTable: Actualizing the Post Normal: Year 2021 & Beyond from Transportation Industry Perspective di Jakarta, Jumat (09/10/2020).

Pelaku bisnis transportasi di kuartal empat tahun ini perlu bersiap untuk memperoleh near cash. Hermawan menyarankan agar pelaku bisnis transportasi berupaya mendapatkan apa pun yang masih memungkinkan dalam waktu dekat ini. Namun, tanpa melupakan near future (2021 and beyond).

“Jadi, jangan beranggapan jika bisnis transportasi akan kembali seperti sedia kala jika pandemi sudah tidak ada. Saya rasa tidak. Ke depan, akan terjadi perubahan-perubahan perilaku customer dalam berpergian dan menikmati layanan transportasi,” tutup Hermawan.

Pendapat tersebut turut diyakini oleh Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Sarana dan Prasarana Perhubungan Asmari Herry.

Ia menilai, para pemain bisnis transportasi mungkin juga telah menyiapkan strategi CI-EL, namun diperlukan beberapa stimulus untuk memperlancar proses recovery tersebut.

Diperlukan stimulus di bidang moneter, seperti relaksasi pembayaran dengan bank, vendor, maupun lessor kepada para pelaku bisnis transportasi berskala apa pun. Dukungan fiskal juga diperlukan pada moda transportasi darat, laut, dan udara, tak terkecuali insentif bahan bakar.

“Pemberian bantuan langsung tunai kepada para pekerja langsung terkait, seperti supir dan para teknisi juga diperlukan. Kemudian, dalam proses penyusunan regulasi diperlukan campur tangan para operator penyedia layanan transportasi. Kami harap, para pemain dapat meniadakan dulu kompetisi bisnis karena proses recovery ini membutuhkan kolaborasi dari semua pihak,” jelas Asmari.

MARKETEERS X








To Top