Hingga Kuartal III Tahun 2021, Penjualan Polis Asuransi Bank DBS Meningkat 27%

profile photo reporter Tri Kurnia Yunianto
TriKurnia Yunianto
03 Desember 2021
marketeers article

PT Bank DBS Indonesia (Bank DBS) membukukan penjualan polis asuransi meningkat 27% hingga kuartal III tahun 2021 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Merebaknya pandemi COVID-19 menyebabkan kesadaran masyarakat akan kebutuhan asuransi jiwa meningkat.

Consumer Banking Director Bank DBS Indonesia Rudy Tandjung mengungkapkan, pembelian polis baru terhadap penyakit kritis meningkat 53% pada kuartal II tahun 2021 dan 113% pada kuartal III, jika dibandingkan dengan kuartal I pada tahun yang sama. Kedua hal ini menunjukkan bagaimana pandemi mendorong kesadaran akan pentingnya perlindungan terhadap resiko penyakit serta ketidakpastian akan masa depan.

“Penjualan polis tersebut tersebar di beragam produk proteksi kesehatan unggulan dari DBS Treasures yang bekerja sama dengan Manulife Indonesia. Salah satunya yang baru-baru ini diluncurkan, yakni MiEarly Critical Protection. Ini adalah produk asuransi yang menyediakan perlindungan pertanggungan terhadap 65 penyakit di tahap awal, dan pertanggungan terhadap hingga 85 penyakit kritis di tahap akhir. Sehingga, nasabah terbebas dari beban pikiran akan biaya perawatan penyakit kritis yang umumnya bernilai besar,” ujar Rudy melalui keterangannya, Jumat (3/12/2021).

Menurutnya, adanya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan di era pandemi yang berpengaruh terhadap penjualan polis asuransi tercermin pula pada data Manulife Asia Care Survey yang dilakukan pada November 2020. Survei ini menjaring responden dari seluruh negara di Asia yang sudah memiliki polis asuransi atau berencana membeli polis dalam enam bulan ke depan yaitu pada semester pertama 2021.

Di antara seluruh responden, 519 orang berasal dari Indonesia dan sebanyak 43% menyatakan telah berinisiatif mencari informasi seputar produk dan layanan asuransi, dalam rangka merespons pandemi. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan responden dari negara-negara lain. “Hasil survei tersebut diperkuat oleh data penjualan polis di Bank DBS Indonesia, yang menyatakan terdapat peningkatan pembelian polis asuransi kesehatan baru,” ujarnya.

Di sisi lain, Rudy membeberkan, pertumbuhan penjualan polis asuransi turut berdampak pada saham-saham sektor kesehatan yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi seiring dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi kesehatan yang terus meningkat. Perusahan yang memproduksi berbagai alat medis yang mutakhir dan berbasis teknologi kian merebak dan semakin dilirik para investor.

“Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2021, sejak tahun 2015 hingga 2021, jumlah perusahaan perangkat medis dalam negeri mengalami pertumbuhan sebesar 361% atau kira-kira sejumlah 698 perusahaan,” pungkasnya.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

Related