IHATEC MR: Konsumen Rela Bayar Lebih Mahal untuk Produk Halal

profile photo reporter Eko Adiwaluyo
EkoAdiwaluyo
24 Juni 2022
marketeers article
Ilustrasi halal. Foto: www.123rf.com
Potensi pasar halal di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat. Hal ini dipandang sebagai peluang pelaku usaha untuk meningkatkan pangsa pasar. Melihat perkembangan pasar halal ke depan, Indonesia Halal Training & Education Center (IHATEC) menghadirkan divisi IHATEC Marketing Research (MR).
Bersamaan dengan peresmiannya, IHATEC Marketing Research meluncurkan riset bertajuk Top Halal Index 2022. Survei ini untuk membantu perusahaan-perusahaan dalam mendapatkan data-data potensi pasar maupun perilaku pasar halal melalui riset.
Survei Top Halal Index 2022 mengusung tema Persepsi Milenial Indonesia terhadap Produk Halal. Berlangsung dari Maret sampai Mei 2022 dan melibatkan 1.300 responden yang tersebar di lima kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar.
“Survei Top Halal Index merupakan survei tentang persepsi label halal dalam setiap produk dan jasa yang digunakan khususnya di kalangan Milenial. Survei ini bertujuan untuk mengetahui seberapa penting label halal sebagai pertimbangan dalam memilih dan menggunakan produk atau jasa,” ujar Fachruddin Putra, Research Division Head of IHATEC Marketing Research, dalam acara IHATEC Marketing Research Launching, (22/06/2022).
Pengumpulan data, lanjut Fachruddin, dilakukan dengan metode wawancara langsung kepada responden atau face to face interview. Responden yang dipilih adalah mereka yang berusia 20-40 tahun atau dari generasi Millenial. Terdiri dari 87% responden beragama Islam dan 13% responden bukan pemeluk agama Islam.
Ada berbagai temuan menarik dalam survei ini. Di antaranya, harga dan kualitas masih menjadi pertimbangan utama responden dalam memilih suatu produk. Sementara itu, hanya 28% responden yang menyebut halal secara spontan sebagai faktor penting atau utama dalam pembelian produk. Kemudian, dari responden yang tidak menyebut halal secara spontan, ditanyakan apakah halal menjadi faktor pertimbangan dalam pembelian, sebanyak 77% menjawab “Ya” dan 23% lainnya menjawab “Tidak.”
Uniknya, tak sedikit responden yang bersedia membayar suatu produk halal dengan harga lebih mahal dibanding dengan produk serupa, yakni sejumlah 68,8%. Hal ini menunjukkan bahwa label halal memberikan nilai tambah (added value) terhadap sebuah produk. Selain itu, label halal juga mendapatkan respons postif dari responden. Banyak di antaranya yang menganggap bahwa produk halal juga pasti berkualitas, higienis, dan sehat.
Lebih lanjut, hasil survei juga memperlihatkan bahwa konsumen sangat menekankan pentingnya label halal dari penyelenggara restoran dan café dengan persentase hingga 93%. Kemudian, disusul oleh produk makanan dan minuman (92%) dan obat-obatan (90%). Berikutnya responden juga menganggap penting produk toiletries mencantumkan label halal (89%). Sementara Kosmetik mencatat 88%, sedang fesyen dan jasa masing-masing dengan persentase 78% dan 76%.
Sumber: IHATEC Marketing Research
“Temuan tersebut menunjukkan bahwa para Milenial sangat perhatian terhadap produk-produk yang dikonsumsi untuk dicantumkan label halal, baik itu produk yang dikonsumsi secara langsung maupun tidak,” ungkap Fachruddin.
Survei tersebut juga mengungkapkan temuan tentang bagaimana konsumen mengakses informasi tentang halal. Google menjadi sumber informasi yang paling sering diakses oleh Milenial dalam mencari informasi halal, yakni 45,2% responden. Sumber informasi berikutnya adalah media massa, seperti koran, TV dan media online dengan 12,5% responden. Kemudian website MUI mencatat 10,2%, Instagram 7,5%, dan Facebook sebanyak 6,2% responden.
“Selain melalui platform tertentu, sejumlah 93,3% memilih kemasan produk menjadi sumber informasi utama dalam mengecek kehalalan suatu produk. Sebagian kecil lainnya, diperoleh dari label atau sertifikat yang ditempel di toko atau tempat penjualan (2,5%) dan media sosial (1,8%),” papar Fachruddin.

    Related