Inilah 8 Gaya Kepemimpinan, Mana yang Paling Baik untuk Dilakukan?

marketeers article
gaya kepemimpinan | sumber: 123rf

Seorang pemimpin tentu memiliki gaya kepemimpinan (leadership style) masing-masing yang disebut sebagai sebuah pendekatan, gaya, atau perilaku yang ditunjukkan dalam memimpin. 

Gaya kepemimpinan ini sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan, keterlibatan tim, memotivasi anggota, dan lainnya. Setiap gaya kepemimpinan tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Melansir dari Emeritus, berikut telah Marketeers rangkum delapan gaya kepemimpinan yang bisa Anda pelajari. 

1. Kepemimpinan visioner (visionary leadership)

Pemimpin yang visioner disebut dapat menginspirasi orang lain dalam bekerja dan mencapai tujuan bersama di masa depan. Ia adalah pemimpin yang dapat memotivasi karyawan dengan baik dan mendorong kreativitas serta inovasi untuk keluar dari zona nyaman. 

Pemimpin yang visioner ini memiliki tujuan yang ambisius dan menantang, sehingga bisa saja menjadi tekanan karena ekspektasi yang mungkin kurang realistis. 

2. Kepemimpinan transaksional (transactional leadership)

Pemimpin transaksional menggunakan transaksi tertentu untuk memengaruhi orang lain dan mencapai tujuannya. Pemimpin ini memiliki ekspektasi, tujuan, dan standar kinerja untuk memastikan bahwa orang lain benar-benar memahami apa yang diinginkannya. 

Untuk mencapai tujuan, leadership style yang digunakan adalah dengan memberikan reward dan hadiah untuk memotivasi dan sebagai insentif bagi karyawan agar dapat mencapai produktivitas dan kinerja yang tinggi. 

BACA JUGA: Inspiratif! Ini 4 Rahasia dari Kesuksesan Gaya Kepemimpinan Steve Jobs

3. Kepemimpinan kharismatik (charismatic leadership)

Gaya kepemimpinan yang karismatik dapat menginspirasi dan memotivasi orang lain dengan berperilaku tertentu, misalnya antusias, energik, dan karismatik. 

Ia dapat membangun optimisme dalam lingkungan kerja, memiliki moral tinggi, dan hubungan yang erat dengan karyawannya. 

4. Kepemimpinan transformasional (transformational leadership)

Pemimpin transformasional mampu mentransformasi orang lain, membangun karyawannya agar bisa mencapai kesuksesan dan pertumbuhan ke arah yang lebih baik.

Leadership style ini mendorong kreativitas, keluar dari zona nyaman, suportif, dan selalu mengedepankan perbaikan yang berkelanjutan. Dengan begitu, karyawan akan memiliki kepuasan kerja dan motivasi yang tinggi. 

5. Kepemimpinan otokratis (autocratic leadership)

Gaya kepemimpinan otokratis tercermin dengan bagaimana pemimpin membuat keputusan dan memberikan arahan tanpa mempertimbangkan masukan dari orang lain. 

Hal ini sering kali membuat anggota tim merasa keberadaannya kurang dihargai dan tidak bisa memberikan perspektif lain. Namun, pemimpin otokratis ini memiliki arahan dan instruksi yang jelas, sehingga minim ambiguitas. 

BACA JUGA: 8 Cara Membangun Karier yang Cemerlang dengan Skill Kepemimpinan

6. Kepemimpinan birokratis (bureaucratic leadership)

Kepemimpinan birokratis umumnya sangat bergantung pada aturan dan prosedur yang menjadi pedoman dalam melakukan kepemimpinan. Ia selalu mencoba meminimalisasi risiko dengan taat pada aturan yang berlaku. 

Leadership style ini memiliki struktur, aturan, dan proses yang jelas agar dapat bekerja dengan efisien, konstan, dan teratur. Namun, hal ini membuat tim tidak dapat bekerja dengan fleksibel, merasa dibatasi, dikontrol ketat, dan rigid.

7. Kepemimpinan demokratis (democratic leadership)

Pemimpin yang demokratis selalu melibatkan setiap anggotanya dalam melakukan proses pengambilan keputusan dan mendorong kolaborasi.

Leadership style ini meyakini bahwa setiap orang harus memiliki rasa kepemilikan dan komitmen yang tinggi kepada tim, sehingga karyawan akan merasa sangat dihargai. 

Pemimpin dengan gaya demokratis bisa meningkatkan kepuasan dan motivasi karyawan dalam bekerja. 

8. Kepemimpinan Laissez-Faire (Laissez-Faire leadership)

Gaya kepemimpinan yang satu ini sangat mendorong kebebasan dan meyakini bahwa setiap orang memiliki hak otonominya sendiri, sehingga mereka dapat membuat keputusannya sendiri. 

Pemimpin Laissez-Faire menjadikan setiap orang lebih kreatif dan memiliki inisiatif, sehingga terbangun rasa memiliki dan self-motivation yang tinggi. Namun, kepemimpinan ini bisa membuat karyawan menjadi kurang terkontrol dan termonitor dengan baik. 

Itulah delapan gaya kepemimpinan yang bisa Anda pelajari lebih dalam. Tidak ada gaya kepemimpinan yang paling baik dan paling buruk. Semua gaya kepemimpinan sama baiknya.

Namun, yang membedakannya adalah penggunaan gaya kepemimpinan pada setiap organisasi yang berbeda-beda dan harus dapat mengikuti kebutuhan dari organisasi yang dipimpinnya tersebut. 

BACA JUGA: Belajar Jadi Pemimpin Sejati dari 7 Buku Kepemimpinan Berikut Ini!

Editor: Ranto Rajagukguk

Related