Digital

IPO dan Merger Lumrah Dalam Perkembangan Startup

Sumber: 123rf.com

Perusahaan modal ventura Jungle Ventures menyebut proses initial public offering (IPO) dan merger merupakan tahapan wajar yang selanjutnya ditempuh oleh sebuah perusahaan rintisan yang sudah matang.

Managing Partners Jungle Ventures David Gowdey mengatakan perkembangan ini sejalan dengan rencana startup unicorn yang siap untuk melantai ke bursa saham (IPO) dalam waktu 12 – 18 bulan ke depan. “Ada juga kemungkinan merger dua atau lebih raksasa internet yang kini menjadi motor perekonomian ekonomi startup di Asia Tenggara,” kata Gowdey seperti dikutip dari keterangan resmi Jungle Ventures. 

Tahun 2021 menjadi tahun menarik bagi dunia startup. Alasannya, banyaknya startup yang mulai mengeksplorasi jalur IPO tradisional maupun dengan special purpose acquisition companies (SPAC). SPAC memang merupakan salah satu jalur yang lebih cepat menuju pasar saham AS, namun tetap saja startupharus memiliki skala yang cukup dalam hal valuasi dan kapitalisasi pasar untuk mendapatkan perhatian dari analis serta investor dari kalangan privat dan institusi. 

“Konsistensi dan stabilitas operasi mereka yang mampu menjadi proyeksi kinerja keuangan setiap triwulan juga akan menjadi salah satu faktor penentu IPO yang sukses,” katanya.

Gowdey merinci bahwa proses investasi dari perusahaan modal ventura dan jalur SPAC sangat berbeda. Para investor yang berpartisipasi lewat jalur SPAC atau pra-IPO merupakan investor pasar publik yang masuk lebih dulu untuk mendapatkan keuntungan tambahan sebelum perusahaan resmi melantai di bursa.

“Sementara itu, perusahaan modal ventura justru membantu perusahaan rintisan melewati berbagai tahapan yang menuju untuk mencapai ke tahap IPO atau secara singkatnya membawa startup dari level nol ke level satu,” katanya.

Ia memprediksi setelah kelompok startup unicorn go public, bermunculan sekelompok startup lain yang mulai mencapai valuasi miliaran dolar di Asia Tenggara.  “Secara alami, mereka pun akan tumbuh menjadi perusahaan yang dalam hal ukuran, skala, dan kematangan bisnisnya berada di fase yang siap untuk pergi ke arah yang sama,” katanya.

Setiap founders, sambung Gowday, tidak membangun bisnis hanya untuk mendapatkan pendanaan semata, tapi untuk membuat bisnis yang dapat bertahan lama. Dengan filosofi Build to Last, Jungle Venturestelah melakukan pendekatan model investasi portofolio yang terkonsolidasi ini.

“Filosofi ini memungkinkan Jungle Ventures untuk membangun perusahaan portofolio pilihan yang meliputi perusahaan unggulan di setiap kategori seperti Kredivo untuk layanan keuangan, Pomelo untuk fast fashion, LivSpace untuk desain rumah dan tempat tinggal, Reddoorz untuk budget travel, dan perusahaan lainnya di Asia Tenggara,” katanya.

Berdasarkan data dari Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (AMVESINDO) menyebutkan bahwa terlepas dari fakta kontraksi perekonomian Indonesia sebagai konsekuensi pandemi, sebanyak 52 startup asal Indonesia berhasil meraup pendanaan sebesar 1,9 miliar dolar AS (27 miliar rupiah) sepanjang tahun 2020.

Meskipun angka pendanaan tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2019, angka tersebut dinilai masih relatif baik mengingat kondisi perekonomian Indonesia yang mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 3,49 persen (yoy). Lebih lanjut, penurunan ini seolah menjadi konsekuensi atas tertundanya berbagai kesepakatan pendanaan akibat pembatasan mobilitas yang memberikan dampak secara regional

Indonesia sebagai rumah dari 196,7 juta pengguna internet dan memiliki tingkat penetrasi internet 73,7% merupakan tempat ideal untuk tumbuh kembang startup yang berorientasi digital.

Gowdey mengatakan Singapura dan Jakarta akan tetap menempati dua dari 10 tempat teratas untuk kota-kota dengan investasi VC tertinggi pada tahun 2019, sehingga dapat dikatakan bahwa startup Asia Tenggara tidak akan kekurangan peluang pendanaan. “Apalagi melihat keberadaan ekosistem usaha yang sangat kuat di Jakarta dengan banyak dana yang berfokus pada Indonesia,” pungkas Gowdey.

MARKETEERS X








To Top