Ivan Lanin: Kuasai Bahasa, Kuasai Dunia

profile photo reporter Sigit Kurniawan
SigitKurniawan
27 Maret 2022
marketeers article
Kecakapan berbahasa menjadi salah satu kunci sukses bagi seseorang untuk menyampaikan gagasannya. Bahkan, sepintar-pintarnya orang, kepintarannya itu tidak akan terlihat bila ia tidak mampu mengungkapkan gagasannya dengan bahasa. Hal ini disampaikan oleh Ivan Lanin, Direktur Utama Narabahasa di depan 1.500-an Gen Z dalam Marketeers XFest 2022 yang digelar secara virtual, Sabtu (26/03/2022).
“Saat kita berbahasa, kita perlu memperhatikan dua hal, yakni bahasa yang baik dan bahasa yang benar. Baik mengacu pada konteks dan benar mengacu pada kaidah berbahasa,” ujar Ivan.
Banyak orang, menurut Ivan, sering berkilah bahwa dalam berbahasa, yang penting pesan bisa tersampaikan. Menurutnya, itu baru memenuhi aspek baik yang terkait dengan konteks penyampaian. “Ketika kita berbahasa, kita memperhatikan dengan siapa kita berbicara, entah terkait usia, pekerjaan, latar belakang, dan sebagainya. Cara kita bercakap-cakap dengan orang sebaya akan berbeda dengan cara kita berbicara dengan orang yang lebih tua,” katanya.
Selain aspek baik, orang juga perlu menguasai aspek benar secara kaidah. Meski dalam praktiknya, orang perlu memperhatikan konteks komunikasi. Kaidah tersebut menyangkut tata bahasa, gaya bahasa, pilihan kata, dan ejaan. Ivan menambahkan, dalam penggunaan bahasa, orang perlu memahami fungsi, ragam, dan laras bahasa. “Ada tiga fungsi berbahasa, yakni ekspresi, komunikasi, dan sosial,” katanya.
Selain itu, orang perlu memahami ragam berbahasa, seperti bahasa lisan, tulisan, formal, informal, dan sebagainya. Sementara, laras bahasa terdiri dari sastra, kreatif, jurnalistik, bisnis, ilmiah, dan hukum. “Keenam laras bahasa ini berbeda cara penyamapainnya,” katanya.
Terkait dengan keterampilan berbahasa, orang bisa melatih dengan banyak hal, seperti menyimak, berbicara, memirsa, menyajikan, membaca, dan menulis. “Bila kita menguasai pengetahuan dan teknik berbahasa ini, kita terhindar dari pemahaman keliru orang lain terhadap apa yang kita sampaikan. Dalam tulisan, misalnya, kalau kita lupa menaruh koma, artinya bisa lain. Misalnya, mari kita makan nenek. Kalau sebelum kata nenek tidak diberi tanda koma, artinya kita kanibal,” kata Ivan.
 

Related