Business

Jadi Solusi Bagi Lingkungan dan Kehidupan Sosial

Sumber: 123RF

Oleh Arya Gumelar, GM BAYK Strategic Sustainability

Di sebuah sesi ClubHouse, Founder Tokopedia William Tanuwijaya mengungkap cita-cita memudahkan warga Indonesia membuka toko dan berjualan hingga ke luar negeri. Tanpa harus memikirkan akses pasar, kerja sama logistik dan layanan bank.

Itu sebabnya, William belum mau menanggalkan jabatan CEO di marketplace terbesar Indonesia itu. Karena cita-cita belum terwujud.

Beberapa pekan sebelumnya, juga di ClubHouse, CEO Group AirAsia Tony Fernandes mengisahkan kekesalannya. Timnya tak juga melakukan yang ia perintahkan: menyertakan layanan dan produk milik maskapai kompetitor di AirAsia.com. Sebuah tugas yang sulit dipercaya bawahannya.

Tony lantas menjelaskan, sudah jadi kebiasaan calon konsumen membuka banyak situs maskapai untuk membandingkan jadwal dan harga. Jadi, sertakan saja sekalian informasi maskapai lain di situs kita. Begitu menurut Tony. Toh, misi AirAsia sejak berdiri 20 tahun lalu adalah membuat “Now Everyone Can Fly”. Meski nantinya maskapai lain yang dipilih.

Nike pun tak pernah menyebut diri perusahaan sports apparel. Melainkan sebuah entitas yang hadir untuk membuat semua bisa merasa menjadi atlet. Pun Apple bukan perusahaan elektronik. Mereka menahbiskan diri sebagai pembuat produk yang mudah digunakan siapa pun. Antitesis dari produk berteknologi tinggi buatan para geeks, yang biasanya cara pakainya tak mudah dimengerti umum.

Sekarang, bukalah situs perusahaan Anda. Jika di halaman visi masih tertera semacam, “Menjadi Produsen Plastik Terbesar di Dunia”, maka bersiaplah menjadi bisnis yang kelak terdisrupsi.

Keberhasilan sebagai produsen plastik terbesar dianggap tak membawa faedah apa-apa bagi publik. Kehadiran perusahaan Anda tak relevan bagi publik.

Berbeda dengan Gojek. Publik punya banyak kepentingan dengan hidup mati perusahaan tersebut. Setidaknya ribuan driver hilang pendapatan jika Gojek bangkrut.

Niat Mulia

Niat awal sebuah entitas bisnis berdiri ternyata jadi penentu hidup hingga puluhan tahun ke depan. Penulis buku Simon Sinek bilang, bukan “what” yang jadi alasan konsumen membeli, tapi faktor “why”.

Lalu bagaimana jika perusahaan sudah lama berdiri dengan niat awal “kurang mulia”?  Berkontribusi pada program Sustainability Development Goals (SDG’s) bisa menjadi salah satu cara. Dengan membuktikan perusahaan berniat menolong dan menjadi solusi masalah lingkungan dan sosial, sesungguhnya adalah cara menolong perusahaan dari ancaman being irrelevant.

Betul, praktik keberlanjutan yang dijalankan perusahaan — didasarkan pada kebijakan terkait lingkungan, sosial dan kepatuhan (ESG) — memang sudah semacam keniscayaan. Setidaknya sudah terbit beberapa peraturan yang mendorong.

Peraturan OJK no. 51 Tahun 2017 misalnya, mengharuskan perusahaan terbuka menyetor sustainability report setiap tahun. Negara-negara Eropa mewajibkan para investor menelaah ESG Score yang dirilis Morgan Stanley dan Dow Jones, sebelum menyuntikkan dana ke perusahaan.

Belum lagi kecenderungan konsumen muda yang sudah punya kesadaran tinggi atas kondisi lingkungan dan sosial. Faktor why menjadi alasan mereka membeli sedotan stainless, produk fesyen daur ulang, hingga memilih belanja di toko curah tanpa kemasan.

Tapi segala kampanye komunikasi, pemasaran, kalkulasi manajemen risiko, kepatuhan terhadap aturan, dan program-program terkait ESG ini tak cukup jadi faktor why jika dilakukan terpisah dari kebijakan strategis perusahaan.

Percuma membuat kampanye pencitraan tentang hak perempuan, jika tak lama kemudian publik menemukan post karyawan Anda di media sosial dengan nada misoginis.

Maka sustainability tak bisa hanya dijadikan program “kosmetik”. Tak bisa hanya dengan sekali membagikan sembako lalu berharap dianggap perusahaan “baik”. Sebab, sekuat apa perusahaan tambang menjadi solusi permasalahan sembako di negeri ini? Akhirnya program sustainability hanya dilakukan “semampunya”, termasuk dalam aspek keahlian dan pendanaan.

Perusahaan sebaiknya memulai program keberlanjutan dengan mengumpulkan data. Termasuk data internal terkait core value (dari potensi supply chain hingga ketertarikan personal sang pemilik), dan data mengenai permasalahan di masyarakat.

Dengan pemetaan tersebut, perusahaan bisa mengisi celah kosong yang tepat dengan kemampuan yang tepat. Inilah yang akhirnya terukur pada dampak yang dihasilkan.

Ketika dampak sudah mulai terasa, maka relevansi perusahaan terhadap hajat hidup orang banyak pun semakin kuat. Jika sustainability sudah integral dengan visi perusahaan, kemudian melahirkan produk dan program keberlanjutan yang berkelanjutan, maka dengan khidmat Anda bisa meresapi nyanyian di setiap perayaan ulang tahun perusahaan: “… panjang umurnya, serta mulia, serta mulia…”

Arya Gumilar

GM, BAYK Strategic Sustainability

 

Mendampingi korporasi untuk merancang dan menjalankan program terkait SDG’s, BAYK mengintegrasikan analisis berbasis data dengan kreativitas, untuk menghasilkan rencana strategis yang berdampak dan terukur, sekaligus meningkatkan reputasi perusahaan.

 

 

MARKETEERS X








To Top