Uncategorized

Jangan Sampai Politisi Dimusuhi Milenial

Source: 123rf

Segmen milenial merupakan segmen yang kompleks. Tak mudah memahami karakter mereka. CEO dan Founder Alvara Research Center Hasanuddin Ali mengatakan membidik milenial itu ibarat memegang pasir. Kalau dipegang terlalu erat, dapatnya akan sedikit. Kalau dilepas, bisa jadi tidak mendapat apa-apa.

“Milenial cenderung tak loyal dengan pilihan politik dikarenakan oleh sikap cuek mereka pada politik. Politik bukanlah topik pembicaraan milenial sehari-hari dan menganggapnya sebagai perbincangan orangtua,” ujar Hasanuddin.

Sementara, milenial lebih suka memperbincangkan olahraga, musik, film, media sosial, dan sebagainya. Hal ini tercermin juga dalam fenomena media sosial belakangan ini. Di media sosial, platform yang paling berisik soal politik adalah Twitter. Sementara, yang anteng-anteng saja soal politik adalah Instagram. Hal ini dikarenakan Twitter isinya lebih dominan Gen X. Sedangkan Gen Y atau milenial lebih doyan eksis di Instagram.

Meski demikian, Hasanudin mengingatkan bahwa tidak semua milenial memiliki perilaku seperti itu. Ada juga sebagian milenial yang memang sudah sadar politik, entah karena lingkungan maupun kesadaran sendiri.

Para politisi maupun merek, tak jarang, mendekati segmen milenial dengan cara tidak substantif. Mereka bermain dengan simbol-simbol belaka, seperti sepatu sneaker, motor gede, jaket, musik, sport, dan sebagainya. Langkah ini tidak salah, namun bukan substansial bagi milenial. Kebutuhan substansial milenial, antara lain pendidikan, ketenagakerjaan, entrepreneurship, dan ekonomi. Ekonomi menjadi isu penting meningat milenial merupakan generasi yang membutuhkan income banyak.

“Uang menjadi salah satu values bagi milenial. Tak heran, milenial sering gonta-ganti tempat kerja bukan untuk mendapatkan karier tinggi, tapi lebih untuk mendapatkan uang lebih banyak. Yang jelas, jangan sampai politisi dimusuhi oleh milenial. Ini akan repot,” pungkasnya.

 

MARKETEERS X








To Top