Jokowi: 600 Juta Orang Terancam Malnutrisi Akibat Pemanasan Global

marketeers article
Presiden Joko Widodo dalam acara World Hydropower Congress 2023. Sumber gambar: Muchlis Jr Biro Pers Sekretariat Presiden.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan saat ini kondisi pemanasan global terus memburuk dan mengancam keberlangsungan hidup seluruh manusia. Hal ini akan menyebabkan sebagian besar penduduk mengalami kesulitan gizi karena banyaknya gagal panen.

Jokowi mengatakan berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bumi sudah bukan lagi mengalami pemanasan global, tetapi telah memasuki fase pendidihan global. Jika kenaikan suhu bumi dibiarkan mencapai lebih dari 1,5 derajat celcius, maka akan membawa bencana bagi banyak orang di berbagai belahan dunia.

BACA JUGA: Perubahan Iklim Sebabkan Kerugian US$ 100 Miliar per Tahun

“Diprediksi mengakibatkan 210 juta orang mengalami kekurangan air, 14% populasi akan terpapar gelombang panas, dan 290 juta rumah akan terendam banjir pesisir, dan 600 juta orang akan mengalami malnutrisi akibat gagal panen, dan ini adalah ancaman yang nyata bagi kita semuanya,” kata Jokowi dalam World Hydropower Congress 2023 yang digelar di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Kabupaten Badung, Provinsi Bali, dikutip Rabu (1/11/2023).

Menurutnya, untuk mengatasi hal tersebut Indonesia berkomitmen mempercepat transisi energi melalui penambahan energi baru terbarukan (EBT) dalam skala besar. Pasalnya, Indonesia kaya potensi energi hijau.

BACA JUGA: Tekan Perubahan Iklim, KLHK Raih Komitmen Pendanaan Rp 749 Miliar

Berdasarkan hitungan, potensi energi hijau Indonesia diperkirakan mencapai 3.600 gigawatt, baik yang bersumber dari matahari, angin, panas bumi, arus laut, ombak, bioenergi, dan hidro. Terkait potensi hidro, kata Jokowi, Indonesia memiliki lebih dari 4.400 sungai yang potensial dan 128 di antaranya adalah sungai besar, seperti Sungai Mamberamo di Papua yang memiliki potensi 24.000megawat.

Kemudian, Sungai Kayan di Kalimantan Utara memiliki potensi 13.000 megawatt yang akan digunakan sebagai sumber listrik untuk Green Industrial Park di Kalimantan.  

“Sekali lagi, ini adalah potensi besar yang bisa kita manfaatkan untuk masa depan bumi dan masa depan generasi penerus,” ujarnya.

Kendati demikian, Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan, salah satunya terkait lokasi sumber hidro yang posisinya jauh dari pusat kebutuhan listrik. Untuk itu, pemerintah telah membuat cetak biru (blueprint) percepatan jalur transmisi yang menyambungkan listrik dari lokasi tenaga hidro menuju pusat pertumbuhan ekonomi dan pusat pertumbuhan industri sehingga nilai kemanfaatannya menjadi lebih tinggi.

Selain itu, Jokowi menyebut tantangan lainnya adalah pendanaan dan alih teknologi. Kedua hal tersebut membutuhkan investasi yang tidak sedikit dan kolaborasi dengan seluruh kekuatan ekosistem hidro di dunia.

“Saya berharap World Hydropower Congress ini dapat menjadi forum kolaborasi yang menghasilkan rekomendasi kebijakan dan meningkatkan investasi untuk pemanfaatan energi air bagi ekonomi hijau yang berkelanjutan,” tuturnya.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS