Finance

Jual Invoice ke Pihak Ketiga Bisa Jadi Cara Jaga Arus Kas

Photo Credits: 123rf

Cash is king. Di tengah kondisi sulit, menjual invoice yang belum terbayar ke pihak ketiga merupakan salah satu cara tercepat untuk memperoleh cash.

Bukan lagi memikirkan untung atau rugi, perusahaan perlu mempertimbangkan bagaimana cara memperoleh cash untuk melanjutkan kegiatan operasional.

Tak dipungkiri, klien kerap membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melunasi hutang mereka. Apalagi, di saat sulit seperti saat ini. Jika tidak segera diatasi, perusahaan bisa kehabisan cash dan terancam berhenti beroperasi.

Menilik praktik ini di Bank DBS Indonesia, Finance Director PT Bank DBS Indonesia Miranti kepada Marketeers beberapa waktu lalu mengatakan, “di dalam mengatur cash flow, kami memiliki penyangga likuiditas dengan instrumen high-quality assets (aktiva lancar kualitas tinggi). Instrumen-instrumen ini cukup besar dalam menjaga liquidity shock sewaktu-waktu dan dapat dicairkan atau dibuhan menjadi kas dengan cepat.”

Bank DBS Indonesia juga percaya terhadap ketahanan likuiditas industri keuangan dan perbankan yang dijalankan dengan baik oleh bank sentral dan lembaga supervise lain. Cara ini diyakini Miranti dapat menjaga cash flow perusahaan agar tetap sehat.

Secara umum, invoice yang ditawarkan kepada pihak ketiga dijual dengan harga yang lebih rendah berkisar 80%. Hal ini kerap tidak menjadi masalah bagi perusahaan karena yang terpenting adalah memperoleh cash secepat mungkin untuk melanjutkan operasional bisnis.

Tidak hanya menjual invoice tersebut kepada pihak ketiga, Anda juga bisa menjadikan invoice tersebut sebagai jaminan untuk meminjam dana dari pihak ketiga. Dengan cara ini, Anda dapat memperoleh cash untuk melanjutkan biaya operasional sembari menunggu klien Anda melunasi invoice yang belum dibayar.

Ingat, perhitungan bukan lagi tertuju pada persoalan untung atau rugi, melainkan bagaimana perusahaan dapat memeproleh cash untuk memacu perputaran roda bisnis.

MARKETEERS X








To Top