Kenali Bahaya dari Self Diagnosis dan Cara Pencegahannya

profile photo reporter Dyandramitha Alessandrina
DyandramithaAlessandrina
21 November 2022
marketeers article
Sumber: 123RF

Akhir-akhir ini, muncul fenomena di media sosial (medsos) yang mana para pengguna, khususnya Gen Z membagikan perasaan dan kondisi mental mereka secara terang-terangan. Hal yang disebut sebagai self diagnosis ini menjadi lumrah belakangan ini. 

Bahkan, terdapat tes-tes survei yang menanyakan “seberapa depresi Anda?”. Lantas, apa sebenarnya fenomena ini dan bagaimana Gen Z menyikapi hal ini?

BACA JUGA: PLN Ajak Milenial dan Gen Z Dukung Transisi Energi di Indonesia

dra. Nana Padmo M.Si, Professional Life Coach mengungkap sekarang ini, banyak Gen Z yang mengalami burn out hingga depresi dalam urusan pekerjaan. Kebetulan, dalam banyak kasus, mereka seringkali melakukan self diagnosis. 

Apalagi, mereka sudah terpapar internet yang dapat membantu mereka mencari informasi.

BACA JUGA: Tips Jaga Kesehatan Mental ala Maybelline New York

“Sebenarnya, bagus Gen Z ingin mencari tahu apa yang terjadi dengan mereka. Persoalannya, tidak semua penjelasan yang ada di internet itu mendalami persoalan orang secara pribadi. Di internet itu adalah deskripsi yang sudah digeneralisir,” kata Nana dalam acara Campus Marketeers Club bertajuk Combating Self-Diagnosis, Jumat (21/10/2022).

Kemudian, Nana menjelaskan bahayanya self diagnosis. Pertama, hal tersebut merupakan asumsi. Asumsi itu tidak berdasarkan data yang valid atau ahli di bidangnya sehingga tidak bisa dipertanggungjawabkan. 

Terlebih, jika kesehatannya berupa fisik atau mental. Menurut Nana, hal tersebut akan berbahaya apabila diasumsikan.

“Gangguan kesehatan fisik itu bisa mengubah perilaku. Kalian bisa tiba-tiba merasa emosi, mood swing. Ternyata, itu bisa disebabkan oleh kesehatan fisik, contohnya tumor otak. Jadi, kalau kalian mengalami hal tersebut, bukan berarti kalian memiliki penyakit mental. Siapa tahu, keseimbangan otak kalian terganggu,” ujar Nana.

Kedua, Nana mengungkap radiasi atau paparan elektromagnetik ternyata bisa juga mengganggu kesehatan. Hal itu mulai dari gangguan tidur, tidak merasa rileks, hingga mudah tersinggung. Selain itu, bisa juga menyebabkan perubahan perilaku dan sakit kepala.

“Tidak hanya itu, alergi juga bisa menimbulkan social anxiety, hyperactivity, dan learning disability. Sebagai contoh, alergi bunga bisa membuat orang tertekan. Aneh, tapi itu memang terjadi. Intinya, tidak semua tanda-tanda mental health itu disebabkan karena mental, bisa saja karena gangguan fisik. Jadi, tidak bisa sembarang self diagnosis,” ujar Nana.

Ia kemudian memberikan tips jika Gen Z atau generasi lainnya mengalami rasa tidak nyaman untuk mengenali  lebih dalam rasa tersebut. Rasa tersebut fakta, namun jangan langsung berasumsi. Pergilah ke dokter atau psikolog.

“Jangan self diagnosis, namun cermati ciri-cirinya. Lalu, bawa ciri-ciri tersebut ke orang yang memang ahli dan profesional. Itu lebih bijaksana agar kalian sendiri juga tidak semakin kacau,” tutur Nana.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related