Kimbo Kitchen Populerkan Kategori Emergency Food

marketeers article

Dalam keadaan bencana alam, anak-anak menjadi kelompok rentan yang membutuhkan dukungan khusus. Ketika bencana alam terjadi, bukan tidak mungkin anak akan kehilangan orang tua mereka. Apalagi, bencana alam membuat pasokan bahan makanan amat terbatas yang menjadikan anak sulit memperoleh asupan kalori.

Karenanya, produsen makanan siap santap Kimbo Kitchen merasa perlu adanya tindakan suportif berupa dukungan sosial, emosional, dan praktis yang diberikan terhadap anak yang mengalami peristiwa krisis, seperti paska bencana alam.

Bekerja sama dengan dua lembaga sosial Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Pelmas GBI, Kimbo Kitchen memberikan bantuan berupa dua produknya, yaitu Kimbo Kitchen Bubur Ayam dan Bubur Sapi kepada anak-anak yang menjadi korban bencana gempa bumi di Palu dan Donggala, pada Kamis, (17/10/2018).

Kimbo Kitchen merupakan produk yang dibesut oleh PT Madusari Nusaperdana sejak tahun 2010. Madusari sendiri adalah perusahaan pengolahan makanan berbahan baku daging sapi dan ayam dengan merek-merek sosisnya antara lain, Kimbo dan Figo. Kimbo Kitchen disebut sebagai pelopor meal ready to eat di Indonesia.

Yenny Andayani, Marketing Manager PT Madusari Nusaperdana  mengungkapkan, ketika ada bencana, pihak yang paling rentan adalah anak-anak. Ia pun mengingat perkataan seorang ibu korban bencana banjir bandang Jakarta tahun 2014 silam.

“Ibu itu bilang ke saya bahwa anaknya hanya makan nasi dicampur air dalam beberapa hari terakhir, sampai dia mendapatkan produk Kimbo Kitchen,” kenang dia.

Berangkat dari pengalaman itu, dua varian produk Kimbo Kitchen pun dipersiapkan sebagai opsi emergency food. Sesuai namanya, emergency food merupakan produk pangan yang diberikan kepada orang-orang dalam keadaan emergency atau darurat bencana.

Umumnya, masa darurat bencana berkisar antara tiga hari hingga dua minggu setelah bencana terjadi. Salah satu karakteristik dari emergency food adalah bentuknya yang praktis, aman dikonsumsi, mudah didistribusikan, awet, dan meal ready to eat atau siap santap.

Dia pun menceritakan cara mengkonsumsi Kimbo Kitchen yang dinilainya amat mudah. Korban bencana bisa langsung menyantapnya setelah membuka kemasan. “Atau jika ingin mengonsumsi bubur dalam keadaan hangat, mereka bisa memasukkan kemasan ke dalam mangkuk atau wajan berisi air panas,” terangnya.

Yenny mengaku bahwa dalam proses produksi, Kimbo Kitchen tidak menambahkan bahan pengawet. Hal ini karena produk ini menggunakan teknologi pangan Retort, yaitu prinsip memasak dalam tekanan dan suhu tinggi. Hal itu membuat produk terbebas dari mikroba yang merusak makanan.

Substitusi mi instan

Yenny bilang, hadirnya Kimbo Kitchen merupakan alternatif kebutuhan asupan pangan pada saat genting. Biasanya orang menganggap mi instan sebagai emergency food.

Namun pada kenyataannya, perlu usaha dan waktu untuk mengonsumi makanan siap saji tersebut. Selain makanan harus dimasak menggunakan air di dalam wajan yang ditaruh di atas kompor, perlu minyak atau gas elpiji untuk membuatnya matang dan layak dikonsumsi.

“Dalam kondisi darurat, sering kali kualitas air menjadi berkurang, di saat yang sama alat memasak menjadi sulit ditemukan,” terang dia.

Selama ini, Kimbo Kitchen masih dipasarkan di Pulau Jawa dan Sumatera, khususnya di gerai Indomaret dan Carrefour. Produk ini juga merambah penjualan online dengan membuka lapak resmi di Lazada dan BliBli. Selain bubu, Kimbo Kitchen juga memproduksi daging semur, kuri, bolenese, hingga ketan hitam.

Semuanya adalah produk meal ready to eat. Harga produk Kimbo Kitchen berkisar Rp 10.000 hingga Rp 25.000 per kemasan.

Editor: Sigit Kurniawan

 

Related

award
SPSAwArDS