Kisah HMNS, Merek Parfum yang Tembus Paris Fashion Week

marketeers article
Set of various woman perfumes isolated o white background.

Merek parfum asli Indonesia HMNS Perfumery berhasil meluncurkan produknya dalam ajang Paris Fashion Week 2022. HMNS nantinya akan bersaing dengan merek-merek global lainnya untuk mendapatkan perhatian masyarakat dunia.

Chief Executive Officer (CEO) dan Founder HMNS Rizky Arief Dwi Prakoso menuturkan, ide awal terciptanya merek tersebut berangkat dari keresahannya yang merasa kesulitan dalam mencari parfum lokal dengan kualitas internasional. Di setiap gerai-gerai di pusat perbelanjaan, dia hanya mendapati merek-merek Eropa dengan harga selangit.

“Semua parfum itu datangnya dari Eropa dan semua parfum itu pakai artis Hollywood. Berarti ada yang salah karena kita punya supply material yang cukup banyak bahkan terbesar di dunia tapi tidak punya brand sendiri,” ujar Rizky dalam Campus Marketeers Club (CMC) secara virtual, dikutip Senin (28/2/2022).

HMNS dirintis tiga orang yang tidak memiliki latar belakang bekerja maupun pendidikan di bidang industri kosmetik. Hanya saja, Rizky merasa optimistis parfum tersebut dapat menjadi peluang bisnis yang sangat menjajikan. Sebab, masih belum banyak pemain yang berani untuk terjun ke kancah internasional.

Dari penuturan Rizky, mempertahankan usaha yang dirintis sejak September 2019 tak mudah. Belum genap setahun beroperasi, badai pandemi COVID-19 melanda dunia dan masuk ke Indonesia pada awal 2020. Hal tersebut menyebabkan aktivitas berkumpul seperti pesta, pertemuan bisnis dan wisata ditutup total.

“Kondisi tersebut membuat permintaan parfum menurun cukup signifikan. Sehingga kami berpikir bagaimana caranya untuk bisa beradaptasi dan melakukan segala inovasi agar bisa bertahan,” ujarnya.

Rizky menambahkan, pandemi yang tidak tahu kapan akan berakhir membuatnya harus menjual produk secara online. Dia bilang sebanyak 90% produknya dijual secara daring di kala merebaknya wabah.

Seiring berjalannya waktu, produk-produknya mulai diterima masyarakat. Adaptasi secara online tak membuat penjualan menurun. Terlebih lagi, parfum yang dijual dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau yakni Rp 300 hingga Rp 500 ribu per botol.

“Singkat cerita, saya mulai belajar industri baru yang sama sekali belum diketahui sebelumnya. Kemudian, kami belajar mengenai sebuah merek yang menjual produknya di media sosial saja, seperti Facebook, Instagram, dan lainnya di mana saat itu belum begitu banyak platform e-commerce,” kata dia.

Lulusan Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menyebut, hingga sekarang industri parfum di Indonesia terus berutumbuh. Permintaan pun terus meningkat seiring dengan mulai dilonggarkannya kebijakan pembatasan oleh pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus.

“Setelah kami melewati banyak tantangan dalam merintis bisnis, saat ini produk HMNS mulai diterima masyarakat. Setiap tahun, kami mampu memproduksi 120 hingga 150 ribu botol parfum untuk memenuhi permintaan konsumen,” pungkasnya.

Editor: Sigit Kurniawan

Related

award
SPSAwArDS