Lebih Dekat dengan dr. Fathema, Perempuan Pertama Peraih Marketeer of The Year

profile photo reporter Sigit Kurniawan
SigitKurniawan
08 Desember 2021
marketeers article
Masa pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini menjadi momentum para pelaku industri kesehatan untuk menunjukkan performanya. Mengingat sektor ini yang berada di garda paling depan dalam memenuhi kebutuhan di masa tersebut. Di sini, selama setahun terakhir, Pertamedika IHC selaku Healthcare Corporation rumah sakit BUMN Indonesia, menunjukkan performa gemilang.
Performa ini tak lepas dari peran Sang Nakhoda, yakni dr. Fathema Djan Rachmat selaku Presiden Direktur PT Pertamina Bina Medika IHC (Pertamedika IHC). Fathema berhasil melakukan transformasi besar di jaringan rumah sakit milik Pertamina tersebut. Tak hanya transformasi teknologi, tetapi juga transformasi sumber daya manusianya. Fathema tekun mengawal digitalisasi rumah sakit dalam Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dalam One Solution System (OSS). Sehingga Pertamedika IHC menjadi rumah sakit yang mampu memberikan layanan terbaik.
Tak hanya itu, transformasi tersebut berdampak positif bagi pendapatan perusahaan. Pada semester I 2021, Pertamedika IHC berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 44% (y-o-y) dari Rp 3,513 triliun menjadi Rp 5,047 triliun dan berhasil mendongkrak pertumbuhan profit sebesar 323,3% dari Rp 188 miliar menjadi Rp 796 miliar.
Pencapaian-pencapaian tersebut mengantar Fathema mendapatkan penghargaan The Best Industry Marketing Champion 2021 dari sektor Healthcare sekaligus Marketeer of the Year 2021. Seperti apa kiprahnya? Simak penuturanya kepada Taufik dan Sigit Kurniawan dari Marketeers.
Bagaimana Anda merintis proses penggabungan rumah sakit BUMN?
Integrasi ini dimulai dari pemikiran bersama bahwa ke depannya, kami perlu memikirkan Indonesia harus memiliki satu korporasi kesehatan yang kuat. Ini dalam rangka menciptakan kedaulatan dalam pelayanan kesehatan maupun rantai pasok. Hal sangat dirasakan saat COVID-19 melanda di mana rantai pasok masih kurang dan perlu mendatangkan barang-barang dan alat-alat kedokteran dari luar negeri.
Sekarang di industri kesehatan ini, mulai tumbuh perusahaan-perusahaan yang menggarap sektor ini. Misalnya, produsen ventilator, sarung tangan, jarum suntik, dan sebagainya. Selain itu, perlu dibangun juga kedaulatan data medis. Data medis ini sangat dibutuhkan dan menjadi new currency di masa depan. Pertempuran di masa depan adalah pertempuran tentang data. Data ini menjadi modal besar kita untuk masuk ke digitalisasi healthcare.
Selain itu, kita juga membangun kedaulatan di bidang pasar sehingga Indonesia menjadi penguasa di pasarnya sendiri. Jadi, IHC atau Indonesia Healthcare Corporation, saat melakukan integrasi dan transformasi. Maka kami berusaha menciptakan value yang pertumbuhannya bisa eksponensial, bersama 75 rumah sakit dan 145 klinik. Hal inilah yang mendorong terciptanya performa selama setahun terakhir.
Transformasi digital tidak akan ideal bila tidak dibarengi dengan transformasi sumber daya manusia (SDM). Bagaimana proses pengembangan SDM selama ini?
Pengembangan SDM memang menantang. Rasio dokter spesialis dengan rasio penduduk masih rendah. Namun, kami harus memiliki program percepatan. Di Pertamedika IHC, kami memiliki program kolaborasi untuk menyiapkan dokter spesialis di seluruh rumah sakit IHC. Hal ini dilakukan dengan kolaborasi dengan kampus-kampus, seperti Universitas Airlangga, Brawijaya, Universitas Indonesia, dan sebagainya. Di sini, kami menyiapkan para dokter muda untuk belajar.
Selain itu, kami memiliki EDP atau Executive Development Program untuk level manajemen. Di level ini, mereka dipacu untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, hingga kepemimpinan. Jadi, kami mengembangkan bagian klinis sekaligus manajemen.
Dalam transformasi rumah sakit, apakah Anda memiliki benchmark?
Pada tahun 2021, kami bekerja sama dengan Mayo Clinic. Kami ingin belajar dari Mayo Clinic untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Namun, kami menyadari bahwa para dokter kami sudah memiliki kecakapan dan kemampuan yang baik. Melihat ini, sebagai pemimpin, saya ingin mendukung mereka dengan menyediakan peralatan dan fasilitas untuk mereka.
Apa yang dilakukan untuk mengembangkan layanan dan akses lebih luas?
Pada tahun 2022, setelah fokus pada pelayanan COVID-19 sepanjang 2021, kami beralih ke layanan selain COVID-19. Misalnya, layanan kardiologi, ongkologi, neurologi, gastrointestinal, ortopedi. Kami melakukan revitalisasi dan modernisasi di seluruh rumah sakit BUMN. Termasuk dengan pendekatan greenfield maupun brownfield. Contohnya, menambah peralatan radioterapi terbaru.
Terkait jantung, kami sedang membangun rumah sakit khusus jantung dan otak. Kami membangunnya di Indonesia Timur karena kami ingin masyarakat di wilayah ini tidak harus datang ke Jakarta untuk berobat. Mereka cukup ke Makassar untuk mendapat pelayanan terkait penyakit jantung dan otak yang merupakan dua penyakit mematikan di Indonesia selain kanker. Intinya, kami mencoba tidak hanya one step ahead, tetapi twoatau three steps ahead. Dan dalam hal ini, peran SDM sangat penting.
Bagaimana komunikasi pemasaran selama ini?
Yang jelas kami harus menguatkan brand equity kami. Kalau dulu, sebelum integrasi, ada banyak logo. Sekarang, semua memiliki satu logo, yakni IHC yang menjadi master brand kami. Ini juga menjadi identitas dari semua layanan dari rumah-rumah sakit yang tergabung dalam IHC. Dengan demikian, kami sudah one brand, one direction sekaligus one standard dalam pelayanan hingga one data record. Khususnya dalam proses transformasi kami menjadi smart hospital. Sebagai smart hospital, kita sudah mengandalkan analitik untuk predictive treatment maupun layanan-layanan yang sifatnya futuristik. Misalnya, treatment genetic, pengobatan imunotherapy, biosimilar therapy, dan sebagainya.
Dengan mengadopsi teknologi-teknologi yang lebih tinggi tersebut, IHC ingin masuk ke tingkat global. Kami tak hanya main di pasar Indonesia, tetapi di pasar lebih luas seperti Asia.
(Wawancara selengkapnya bisa Anda simak di Majalah Marketeers edisi Desember 2021)
 

Related